Angka itu memang turun 25,1% dibanding tahun sebelumnya. Tapi, kalau dibandingkan dengan estimasi awal mereka yang cuma 2,93 triliun yen, ini jelas sebuah kenaikan yang signifikan.
"Meskipun terdapat dampak negatif dari tarif Amerika Serikat (AS) yang baru muncul pada tahun fiskal ini, kami telah meredam penurunan laba dengan menerapkan pengurangan biaya dan upaya pemasaran," ungkap perusahaan.
Penjualan pun diprediksi bakal naik 4,1% year-on-year, menjadi 50 triliun yen. Angka laba operasional juga ikut terdongkrak, dari proyeksi awal 3,4 triliun yen menjadi 3,8 triliun yen.
Namun begitu, bukan berarti semuanya mulus. Pada kuartal September-Desember kemarin, laba bersih dan laba operasional Toyota justru merosot. Ironisnya, ini terjadi saat penjualan mereka justru meningkat. Biaya tambahan akibat tarif AS disebut-sebut sebagai biang keladinya.
Jadi, tantangan untuk Kenta Kon sudah menunggu. Ia tak hanya harus memimpin transformasi internal, tapi juga membawa Toyota berlayar di tengah badai tekanan geopolitik dan persaingan pasar global yang semakin sengit.
Artikel Terkait
Lebaran di Kota Tua: Ramai Wisatawan dan Cerita Warga yang Pilih Tak Mudik
CEO BlackRock Peringatkan AI Berpotensi Perlebar Kesenjangan Kekayaan
Fabregas Persembahkan Kemenangan Telak Como untuk Almarhum Michael Bambang Hartono
Arus Balik Diprediksi Puncak Besok, Bakauheni Sudah Padat Sejak Hari Ini