Inggris Luncurkan Program Akselerator Pendanaan Iklim di Indonesia

- Kamis, 05 Februari 2026 | 12:20 WIB
Inggris Luncurkan Program Akselerator Pendanaan Iklim di Indonesia

MURIANETWORK.COM - Pemerintah Inggris secara resmi meluncurkan program Climate Finance Accelerator (CFA) di Indonesia. Inisiatif ini dirancang untuk mendukung upaya nasional mencapai target iklim (NDC) dan net zero 2060, dengan cara menjembatani pelaku bisnis rendah karbon yang membutuhkan pendanaan dengan para investor potensial. Peluncuran ini menandai dimulainya siklus pertama program di Indonesia, yang diharapkan dapat mengakselerasi pembiayaan untuk proyek-proyek iklim skala besar di tengah estimasi kebutuhan dana yang mencapai ratusan miliar dolar AS.

Mengakselerasi Pembiayaan untuk Aksi Iklim

Climate Finance Accelerator bukanlah program baru di peta global. Sebagai bagian dari bantuan teknis Pemerintah Inggris, CFA telah memiliki rekam jejak mendukung lebih dari 200 bisnis di berbagai negara. Fungsinya di Indonesia akan sangat strategis, mengingat besarnya potensi pasar untuk investasi rendah karbon di kawasan Asia Tenggara. Program ini secara khusus diselaraskan dengan komitmen iklim nasional Indonesia, menawarkan sebuah mekanisme praktis untuk mengatasi kesenjangan antara inovasi hijau dan ketersediaan modal.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, menyambut baik kehadiran program ini. Ia menekankan kontribusi nyata CFA dalam membuka akses pembiayaan.

"Climate Finance Accelerator telah mendukung lebih dari 200 bisnis di seluruh dunia dan membuka lebih dari USD400 juta dalam kesepakatan investasi. Saya senang bahwa program yang sangat sukses ini kini hadir dan meluncurkan siklus pertamanya di Indonesia," jelasnya.

Dukungan Langsung bagi Pengusaha Hijau

CFA Indonesia kini tengah membuka pendaftaran bagi bisnis-bisnis dengan fokus rendah karbon yang sedang mencari investasi. Kriteria seleksi akan mencakup berbagai sektor kunci, mulai dari energi terbarukan, pengelolaan limbah, pertanian berkelanjutan, hingga transportasi hijau dan kehutanan.

Bagi yang terpilih, program ini menawarkan pendampingan intensif selama tiga hingga empat bulan. Dukungan tersebut tidak hanya terbatas pada aspek finansial dan teknis, tetapi juga mencakup pelatihan untuk memastikan prinsip kesetaraan, inklusi disabilitas, dan keberagaman terintegrasi dalam model bisnis. Pendekatannya bersifat personal, dirancang untuk memperkuat kapasitas bisnis agar lebih menarik dan siap diuji oleh investor.

Dominic Jermey mengakui bahwa jalan menuju pendanaan seringkali penuh tantangan bagi pengusaha di sektor iklim.

"Kami memahami bahwa bisnis-bisnis iklim yang tengah mencari pembiayaan dapat menghadapi tantangan untuk menjadi layak menerima investasi. Indonesia adalah mitra iklim yang penting dan pemain utama dalam aksi iklim global, dengan para pengusaha iklim yang berbakat," ungkapnya.

Puncak Program dan Jaringan Investor

Puncak dari proses pendampingan ini adalah sebuah forum investor yang rencananya akan digelar pada November 2026. Di forum tersebut, sekitar sepuluh bisnis terpilih akan mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan proposal mereka langsung di hadapan jaringan lembaga pembiayaan dan investor iklim. Momen ini bukan sekadar ajang pitching, tetapi juga ruang untuk membangun relasi strategis dan mendapatkan umpan balik berharga guna menyempurnakan rencana bisnis.

Kehadiran CFA di Indonesia juga memiliki dimensi politik yang signifikan. Program ini menjadi salah satu wujud nyata dari Kemitraan Strategis Inggris-Indonesia yang dideklarasikan oleh pimpinan kedua negara.

"Call for proposals ini menandai tonggak penting setelah peluncuran Kemitraan Strategis Inggris–Indonesia oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Prabowo Subianto di London," tutur Duta Besar Jermey, menegaskan konteks kerja sama yang lebih luas.

Dengan kombinasi antara dukungan teknis yang terarah, akses ke jaringan finansial global, dan momentum kerja sama bilateral yang kuat, CFA diharapkan dapat menjadi katalis yang mempercepat realisasi proyek-proyek iklim konkret di Indonesia. Kesuksesan program ini kelak tidak hanya diukur dari nilai investasi yang terkumpul, tetapi juga dari kontribusinya dalam memperkuat ekosistem bisnis berkelanjutan di tanah air.

Komentar