Prasetyo mengakui, tragedi tersebut harus menjadi momentum evaluasi. Ia berharap, dengan pemantauan yang lebih ketat, kejadian serupa dapat dicegah di masa depan.
“Kami memastikan, kalaupun belum bisa kita berdayakan secara mandiri, tetapi kehadiran atau intervensi pemerintah harus kita pastikan untuk menyentuh ke seluruh lapisan, terutama yang paling bawah, sehingga kejadian-kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” ungkapnya dengan nada serius.
Evaluasi Menyeluruh Kebijakan Pengentasan Kemiskinan
Lebih dari sekadar instruksi, pemerintah menyatakan komitmen untuk meninjau ulang kebijakan penanggulangan kemiskinan yang ada. Prasetyo menyebut, insiden di Ngada menjadi bahan kajian mendalam untuk memperbaiki berbagai aspek, mulai dari akurasi data, efektivitas pelaporan, hingga membangun kembali kepedulian sosial di semua tingkatan.
“Ini bagian dari yang harus kita evaluasi secara menyeluruh gitu. Masalah pendataan, masalah laporan, termasuk kepedulian sosial kita,” lanjutnya.
Pernyataan pejabat tinggi ini menggarisbawahi sebuah paradigma: keberhasilan program sosial pemerintah sangat bergantung pada sinergi dengan aparatur di garis terdepan. Tanpa mata dan telinga yang jeli di setiap dusun dan kampung, bantuan bisa saja melenceng dari sasaran, meninggalkan mereka yang paling membutuhkan dalam kesendirian.
Artikel Terkait
Kota Tua Jakarta Ramai Dikunjungi 18 Ribu Wisatawan Selama Dua Hari Libur Lebaran
Arus Balik Lebaran Mulai Terasa di Tol Cipali, Arah Jakarta Padat
Arus Balik Lebaran Mulai Padati Tol Cipali, Volume Kendaraan ke Jakarta Melonjak 161,5%
Arus Balik Lebaran Mulai Padati Tol Cipali, Volume Kendaraan ke Jakarta Naik 1,5 Kali Lipat