Barantin Siagakan Pengawasan Menyeluruh Jelang Ancaman Virus Nipah

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:50 WIB
Barantin Siagakan Pengawasan Menyeluruh Jelang Ancaman Virus Nipah

Laporan kasus virus Nipah yang meningkat di beberapa negara Asia Selatan membuat Badan Karantina Indonesia, atau Barantin, waspada. Mereka langsung memperketat langkah pencegahan agar virus itu tidak masuk dan menyebar di dalam negeri. Ini bukan sekadar soal protokol, melainkan upaya serius untuk melindungi kesehatan masyarakat dan ketahanan pangan nasional.

Kepala Barantin, Sahat M Panggabean, menegaskan hal itu. Langkah pengawasan yang diperkuat dilakukan secara terintegrasi, memanfaatkan pendekatan manajemen risiko dan sistem karantina modern, tentu dengan sinergi lintas sektor.

“Barantin bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, dan instansi terkait lainnya memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah di Indonesia,” ujar Sahat.

Meski begitu, potensi risikonya tak bisa dianggap enteng. Mobilitas manusia dan perdagangan lintas negara yang tinggi membuat ancaman itu selalu mengintai.

Virus Nipah sendiri bukanlah hal baru. Pertama kali diidentifikasi antara tahun 1998 dan 1999 di Sungai Nipah, Malaysia, virus ini punya tingkat keparahan yang tinggi dan bersifat zoonosis bisa loncat dari hewan ke manusia. Inang utamanya adalah kelelawar buah dari genus Pteropus. Penyebarannya terjadi lewat urin, air liur kelelawar, hingga sisa makanan atau buah yang terkontaminasi.

Penularan ke manusia bisa melalui hewan hidup seperti kelelawar, babi, atau kuda yang berasal dari negara terdampak India, Malaysia, Singapura, Bangladesh, atau Filipina. Tak cuma itu, produk hewan, tumbuhan, bahkan lingkungan dan sarana angkut yang terkontaminasi juga bisa menjadi media penularan.

Di beberapa wabah, babi sering menjadi ‘inang penguat’ yang mempercepat penyebaran. Begitu terinfeksi, babi bisa mengeluarkan virus dalam jumlah besar lewat saluran pernapasan, urin, dan air liurnya. Itu membuatnya jadi media penularan utama ke hewan lain dan manusia. Bahkan, hewan pemakan bangkai diduga turut berperan menyebarkan virus ke babi.

Yang perlu diwaspadai, virus ini bisa bertahan di lingkungan tertentu: pada buah, air minum, atau permukaan yang tercemar. Sumber infeksi ke manusia juga bisa berasal dari sekresi pernapasan babi atau dari buah dan jus seperti kurma yang terkontaminasi sekresi kelelawar.

Faktor lain yang memperumit adalah pergerakan hewan yang sudah terinfeksi tapi belum menunjukkan gejala. Inilah yang diduga menjadi penyebab utama penyebaran geografis virus Nipah antarwilayah dan negara, terutama lewat perdagangan hewan hidup.

Hingga akhir Januari 2026, otoritas kesehatan di Benggala Barat, India, sudah melaporkan sejumlah kasus konfirmasi pada manusia. Kondisi ini memicu kewaspadaan global, mendorong banyak negara memperkuat pengawasan di pintu-pintu masuk internasional.

Wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, secara ekologis memang berisiko. Populasi kelelawar Pteropus di sini terbilang besar. Ditambah lagi, tingkat kematian akibat virus Nipah tinggi, belum ada vaksin atau terapi spesifik, dan potensi penyebaran lintas spesies membuatnya jadi penyakit prioritas yang diawasi ketat oleh WHO.

Oleh karena itu, kewaspadaan regional dan kerja sama internasional menjadi kunci. Terutama di daerah perbatasan negara, seperti Pos Lintas Batas Negara yang berdekatan dengan Malaysia.

Menurut Sahat, Barantin terus berupaya memperkuat kesiapsiagaan. Caranya dengan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, laboratorium, dan sistem pemantauan penyakit hewan. Tujuannya satu: mencegah virus berbahaya ini masuk ke tanah air.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar