Yang perlu diwaspadai, virus ini bisa bertahan di lingkungan tertentu: pada buah, air minum, atau permukaan yang tercemar. Sumber infeksi ke manusia juga bisa berasal dari sekresi pernapasan babi atau dari buah dan jus seperti kurma yang terkontaminasi sekresi kelelawar.
Faktor lain yang memperumit adalah pergerakan hewan yang sudah terinfeksi tapi belum menunjukkan gejala. Inilah yang diduga menjadi penyebab utama penyebaran geografis virus Nipah antarwilayah dan negara, terutama lewat perdagangan hewan hidup.
Hingga akhir Januari 2026, otoritas kesehatan di Benggala Barat, India, sudah melaporkan sejumlah kasus konfirmasi pada manusia. Kondisi ini memicu kewaspadaan global, mendorong banyak negara memperkuat pengawasan di pintu-pintu masuk internasional.
Wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, secara ekologis memang berisiko. Populasi kelelawar Pteropus di sini terbilang besar. Ditambah lagi, tingkat kematian akibat virus Nipah tinggi, belum ada vaksin atau terapi spesifik, dan potensi penyebaran lintas spesies membuatnya jadi penyakit prioritas yang diawasi ketat oleh WHO.
Oleh karena itu, kewaspadaan regional dan kerja sama internasional menjadi kunci. Terutama di daerah perbatasan negara, seperti Pos Lintas Batas Negara yang berdekatan dengan Malaysia.
Menurut Sahat, Barantin terus berupaya memperkuat kesiapsiagaan. Caranya dengan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, laboratorium, dan sistem pemantauan penyakit hewan. Tujuannya satu: mencegah virus berbahaya ini masuk ke tanah air.
Artikel Terkait
Imsak Bogor Hari Ini Pukul 04.32 WIB, Berikut Jadwal Lengkap Salat
Gubernur DKI Siapkan WFH untuk ASN Guna Hemat BBM Antisipasi Dampak Konflik Global
Jalur Padang-Bukittinggi Siap 24 Jam untuk Mudik Lebaran 2026
Kapolri Tegaskan Persatuan Kunci Hadapi Tantangan di Safari Ramadan Riau