Perubahan ini, kata Amran, harus dibaca dengan saksama. "Penurunan hujan di beberapa wilayah bukan berarti aman sepenuhnya. Petani tetap harus adaptif," jelasnya.
Di daerah yang masih sering diguyur hujan, saluran drainase yang lancar adalah keharusan mutlak. Sementara di wilayah yang mulai kering, pengaturan jadwal tanam dan efisiensi air jadi penentu. "Manajemen air menjadi sangat penting," imbuhnya.
Di lapangan, langkah konkret juga digodok. Dirjen Tanaman Pangan, Yudi Sastro, menyarankan pemilihan varietas yang tepat untuk tiap kondisi. "Kami mengimbau petani di wilayah rawan banjir menggunakan varietas padi toleran genangan seperti Inpara dan Inpari," kata Yudi.
"Ini penting untuk menekan risiko puso akibat banjir."
Penyesuaian jadwal tanam berdasarkan prakiraan cuaca juga wajib. Normalisasi saluran air pun harus jadi perhatian bersama agar luapan tidak merusak lahan. "Kita ingin memastikan air terkendali, bukan justru merusak tanaman," ujarnya.
Sebagai bentuk keseriusan, sejak September 2025 lalu, Ditjen Tanaman Pangan sudah mengeluarkan surat peringatan dini. Isinya beragam, mulai dari kesiapan sarana produksi, alat mesin pertanian, hingga strategi menghadapi perubahan iklim. Koordinasi dengan petugas lapangan dan pemantauan informasi BMKG juga ditekankan.
Harapannya jelas. Semua langkah ini bisa menjaga stabilitas produksi, mengejar target beras 34,77 juta ton, sekaligus melindungi petani dari gagal panen. "Target produksi harus tercapai, petani juga harus terlindungi. Itu komitmen kami," tutup Mentan Amran.
Artikel Terkait
Ammar Zoni Protes Penempatan di Nusakambangan: Saya Bukan Penjahat Besar
No Na Rilis Work (+62), Video Musik yang Sorot Kekuatan Fisik dan Tarian
Banjir Longsor Cisarua, BRI Bergerak Cepat Bantu Korban dan Trauma Healing
Tiga Puluh RT di Jakarta Masih Terendam, Warga Terpaksa Mengungsi