Dari segi biaya, tenaga surya kini semakin kompetitif. Laporan IRENA menyebutkan, pada 2024, biaya pembangkitan listrik tenaga surya ada di kisaran USD 0,043 per kWh. Angka ini sekitar 41% lebih murah dibanding pembangkit fosil paling efisien sekalipun. Jadi, selain ramah lingkungan, PLTS kini juga semakin masuk akal secara ekonomi.
Skema Pembiayaan yang Memudahkan
Salah satu hal yang sering jadi kendala adalah investasi awal. SUN Energy menawarkan solusi lewat model Performance-Based Rental (PBR).
Dengan skema ini, perusahaan bisa mengadopsi PLTS off-grid tanpa perlu menggelontorkan modal besar di depan. Pelanggan cukup membayar sesuai energi yang mereka gunakan. Sementara semua urusan pengelolaan dan perawatan sistem ditangani sepenuhnya oleh penyedia layanan.
Model seperti ini memberi fleksibilitas tinggi bagi industri untuk mulai bertransisi. Efeknya, upaya dekarbonisasi bisa berjalan lebih cepat. Belum lagi manfaat penghematan biaya operasional dan pengurangan emisi karbon yang signifikan dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, penerapan PLTS off-grid yang terintegrasi BESS ini bukan cuma soal efisiensi. Ia juga berkontribusi pada kemandirian energi nasional. Teknologi ini membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan pada fosil dan sekaligus meningkatkan ketahanan energi di daerah-daerah yang selama ini gelap gulita.
Dukungan kebijakan pemerintah ditambah inovasi dari pelaku bisnis seperti SUN Energy diperkirakan akan membentuk masa depan energi Indonesia. Masa depan yang lebih bersih, mandiri, dan tentu saja, berdaya saing. Dengan PLTS off-grid dan BESS, sektor industri bisa mengambil langkah konkret menuju operasi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Pramono Anung Perpanjang WFH dan Sekolah Daring hingga Awal Februari
Ilmuwan Ungkap Suhu Rahasia untuk Kue Kering Sempurna
Emas Antam Tembus Rp3,1 Juta per Gram, Catat Rekor Baru dalam Sehari
BTN Pacu Pertumbuhan, Rumah Subsidi Tetap Jadi Tulang Punggung hingga 2026