Di sisi lain, kekayaan budaya Nusantara juga tak terlupakan. Tiga elemen motif batik pesisir menghiasi tubuh sang kuda. Motif batik Banji, Pucung Rebung, dan bunga batik di kaki yang terangkat sengaja dipilih. Tujuannya sederhana: agar kemajuan zaman tidak membuat kita lupa pada nilai-nilai kemanusiaan dan budaya.
"Ada tiga elemen yang sangat Indonesia banget... supaya pada saat kita melangkah sama seperti sang kuda galloping forward, itu kita tetap akan ingat dengan kebudayaan kemanusiaannya kita," beber dia.
Ada satu keunikan lagi. Perayaan Imlek 2026 kebetulan berdekatan dengan bulan suci Ramadhan. Fakta ini pun diabadikan dalam logo, lewat dua garis di ekor kuda yang melambangkan keseimbangan hidup.
"Di buntut kuda itu ada dua lines, kenapa? Karena tahun ini sangat spesial. Pertama ada Imlek, kemudian dirayakan di bulan Ramadhan. Dualisme itu kan harus seimbang ya. Jadi ada dualisme yang seimbang. Itulah yang dipancarkan dari sebuah logo Harmoni Imlek Nusantara,” papar Irene.
Harapannya besar. Lewat logo dan festival ini, Indonesia ingin jadi destinasi utama perayaan Imlek tingkat dunia. Ini adalah bukti nyata persatuan di tengah dunia yang serba dinamis. Intinya, Indonesia ingin menunjukkan diri sebagai negara yang paling menjunjung tinggi keberagaman.
“Tujuan kita bikin ini supaya ini bisa jadi event tahunan. Supaya orang-orang enggak usah ke luar negeri, tapi di Indonesia sendiri bisa menikmati Imlek yang sangat meriah. Juga bisa menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa Indonesia adalah negara yang paling inklusif, di mana Ramadan dan Imlek dirayakan bersamaan dengan damai sejahtera,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Menag Usulkan Rp703 Miliar untuk Bangkitkan Madrasah dan Rumah Ibadah Pasca Bencana
Atalia Soroti Tren Penurunan Pernikahan: Ketahanan Keluarga Harus Jadi Fokus
BRI Pacu Program Rumah Subsidi, Salurkan Rp16 Triliun untuk Lebih dari 118 Ribu Debitur
Purbaya Guncang Kemenkeu: 36 Pejabat Baru Diharap Dorong Indonesia Naik Kelas