Di Balik Gemuruh Festival, Budaya Kritik Film di Jogja Sekarat

- Selasa, 27 Januari 2026 | 20:00 WIB
Di Balik Gemuruh Festival, Budaya Kritik Film di Jogja Sekarat

Yang tersisa ya kritik yang normatif. Hanya mengusap permukaan.

Menurut Ima, ini soal budaya yang belum terbentuk. Ruang diskursus sebenarnya ada, tapi penonton belum terbiasa merasa pendapatnya valid.

“Budayanya Sudah Mati”

Dari dalam komunitas, langkah perbaikan mungkin terdengar cukup. Tapi bagi yang sudah mengamati puluhan tahun, diagnosanya lebih keras.

Di ruang kerjanya yang dipenuhi buku dan poster film, Himawan Pratista duduk sambil sesekali mengetuk-ngetuk meja. Kritikus film dan pendiri Komunitas Film Montase ini sudah mengamati ekosistem film Jogja hampir dua dekade.

Soal absennya budaya kritik, pandangannya blak-blakan.

Ia soroti persoalan mendasar: rapuhnya pemahaman estetika di kalangan pembuat film. Banyak yang bekerja tanpa landasan konseptual jelas.

Tanpa peta estetika, diskusi kehilangan arah.

Ia juga menyoroti sikap elitis yang justru datang dari kalangan filmmaker sendiri. Mereka membangun tembok eksklusivitas, lalu heran kenapa diskursus tak jalan.

Industri film Indonesia memang tumbuh. Bioskop penuh, box office meledak. Tapi Himawan melihat ironinya.

Gemuruh Tepuk Tangan

Kegelisahan Himawan bergema. Di garis depan, kritikus muda masih mencoba menulis di tengah sunyi, mempertanyakan relevansi kerja mereka di ekosistem yang makin nyaman dengan tepuk tangan.

Dari ruang ke ruang, pola yang sama terus terulang. Jogja masih bergerak, tapi gerakannya kini mirip ritual. Festival datang dan pergi, film diputar dan ditepuk, pertanyaan mendasar makin jarang diajukan.

Di sebuah pemutaran lain, moderator bertanya, “Ada pertanyaan?”

Hening.

Seorang penonton angkat ponsel, memotret layar yang masih menampilkan kredit. Lampu menyala. Orang-orang beranjak, bicara soal mau makan di mana. Film itu entah baik atau buruk sudah selesai. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Kenyamanan jadi mata uang baru di ekosistem ini. Karya disambut hangat, diskusi dibiarkan suam-suam kuku. Jogja tak pernah miskin mahakarya, hanya sering kekurangan nyali untuk menguliti yang ganjil, yang belum matang.

Pertanyaannya: bila sebuah ekosistem film tak lagi memberi ruang bagi suara yang mencakar dan mempertanyakan, mungkinkah ia benar-benar tumbuh atau justru diam-diam membusuk di bawah gemuruh tepuk tangan?


Halaman:

Komentar