“Kedua, pemetaan dan pemutakhiran data desa-desa yang hilang, terus kami lakukan.”
Langkah selanjutnya adalah penyusunan perencanaan. Salah satu poin kritis adalah penyediaan lahan untuk relokasi. Yandri menekankan, lokasi baru harus benar-benar aman, bebas dari ancaman banjir atau longsor berulang. Barulah setelah itu, rekonstruksi sarana dasar seperti rumah, sekolah, dan puskesmas bisa dimulai.
Namun begitu, pembangunan fisik saja tidak cukup. Aspek pemulihan ekonomi warga harus berjalan beriringan.
“Pemulihan ekonomi, ini penting di tingkat desa nanti,” tegas Yandri.
“Ada desa tematik, UMKM, BUMDes, KOPDes, dan tentu ada pasar desa.”
Upaya pemulihan pascabencana tampaknya masih panjang. Hilangnya puluhan desa itu adalah pengingat keras tentang betapa rentannya permukiman di daerah rawan bencana. Tantangan ke depan adalah membangun kembali, sekaligus memastikan tragedi serupa tidak terulang.
Artikel Terkait
Ekonomi Indonesia Kuat Ditopang Konsumsi Domestik dan Utang Terkendali
Lebaran 2026: Lebih dari 638 Ribu Tiket Kereta Api Jarak Jauh Sudah Terjual
Pemerintah Andalkan Perjanjian Dagang ART sebagai Fondasi Hadapi Investigasi AS
KAI Siapkan 19 Perjalanan Tambahan Antisipasi Puncak Mudik Besok