Rapat kerja Komisi V DPR RI di Senayan, Selasa lalu, diwarnai pengakuan mengejutkan dari Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto. Ia mengungkapkan, bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatera tak hanya merusak, tetapi juga menghapus sejumlah desa dari peta.
“Desa-desanya ada yang menjadi sungai, pak ketua,” ujar Yandri, menggambarkan situasi yang hampir tak terbayangkan.
“Banyak desa yang selama ini ada di sempadan sungai. Ketika banjir, sungai pindah ke desa itu. Jadi desanya benar-benar hilang.”
Menurut data terakhir per 12 Januari 2026, jumlahnya mencapai 29 desa. Mereka tersebar di enam kabupaten dan kota di tiga provinsi. Kabarnya, sebagian besar wilayah itu kini tertimbun material longsor atau telah berubah menjadi aliran air. Meski begitu, penduduknya termasuk kepala desa dan perangkatnya masih ada dan saat ini mengungsi.
Ini tentu jadi pekerjaan rumah yang sangat berat bagi kementeriannya. Bagaimana tidak, sarana prasarana pemerintahan dan pelayanan publik lenyap begitu saja.
Dari 29 desa yang hilang, rinciannya adalah 21 desa di Aceh dan delapan desa di Sumatera Utara. Menghadapi situasi ini, Kemendes PDT tak tinggal diam. Yandri memaparkan sejumlah langkah yang telah dan akan diambil.
“Pertama, kami berkoordinasi dengan kementerian/lembaga, itu sudah pasti. Kami mengacu kepada Keppres No. 1/2026 di mana mendagri sebagai ketua satgas,” jelasnya.
Artikel Terkait
Ekonomi Indonesia Kuat Ditopang Konsumsi Domestik dan Utang Terkendali
Lebaran 2026: Lebih dari 638 Ribu Tiket Kereta Api Jarak Jauh Sudah Terjual
Pemerintah Andalkan Perjanjian Dagang ART sebagai Fondasi Hadapi Investigasi AS
KAI Siapkan 19 Perjalanan Tambahan Antisipasi Puncak Mudik Besok