Di tengah hiruk-pikuk Forum Ekonomi Dunia di Davos, sebuah pengumuman mengejutkan datang dari Donald Trump. Mantan Presiden AS itu berhasil mengumpulkan lebih dari 20 negara untuk menandatangani piagam Dewan Perdamaian, sebuah inisiatif kontroversial yang ia gagas. Penandatanganan berlangsung Kamis lalu, mengukuhkan komitmen awal sejumlah negara dari berbagai belahan dunia.
Negara-negara yang menyetujui bergabung cukup beragam. Dari Albania, Argentina, hingga negara-negara Timur Tengah seperti Bahrain, Qatar, dan Arab Saudi. Beberapa negara Asia, termasuk Vietnam dan Indonesia, juga tercatat dalam daftar. Tak ketinggalan, sejumlah sekutu tradisional AS seperti Israel dan Yordania turut serta.
Namun begitu, peta politik global tak sepenuhnya mendukung. Sejumlah negara Eropa besar justru memilih untuk menjaga jarak. Prancis dan Inggris, misalnya, dikabarkan enggan menjadi anggota. Situasi yang lebih panas terjadi di seberang perbatasan AS. Kanada, yang awalnya diundang, justru dicoret oleh Trump setelah terjadi adu mulut sengit dengan Perdana Menteri Mark Carney.
Lalu bagaimana dengan dua raksasa, Rusia dan China? Keduanya mengaku telah menerima undangan. Tapi sampai berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi apakah mereka akan benar-benar bergabung. Sikap wait-and-see ini tentu menambah dinamika.
Perlu diingat, awal mula ide dewan ini sebenarnya fokus pada Gaza. Trump pertama kali mengusulkannya sebagai pengawas fase lanjutan rencana perdamaian di Jalur Gaza. Tapi seiring waktu, cakupannya meluas jauh melampaui konflik Timur Tengah itu. Pada November lalu, PBB bahkan menyetujui pembentukannya sebagai bagian dari paket yang lebih besar, termasuk rencana pasukan keamanan untuk Gaza.
Artikel Terkait
Tahun Keempat Beruntun, Populasi China Terus Menyusut ke Titik Terendah
Prabowo Kembali ke Tanah Air Usai Kunjungan Diplomatik ke Eropa
Program Makan Bergizi Indonesia Jadi Sorotan di Forum Ekonomi Davos
Pukul dan Jaringan: Turnamen Padel AEI-JInfovesta Lahirkan Kolaborasi di Luar Lapangan