BI Yakin Ekonomi Melaju Tanpa Picu Inflasi

- Kamis, 22 Januari 2026 | 19:20 WIB
BI Yakin Ekonomi Melaju Tanpa Picu Inflasi

Kondisi ekonomi domestik kita masih menunjukkan kekuatan yang cukup solid. Hal ini diungkapkan oleh Bank Indonesia, yang menilai perekonomian masih ditopang oleh beberapa faktor kunci. Di antaranya adalah perputaran uang yang tinggi, pertumbuhan kredit yang mulai membaik, serta kebijakan moneter yang tetap mendukung.

Menariknya, dorongan pertumbuhan ini diyakini tidak akan memicu tekanan inflasi. Menurut BI, inflasi diperkirakan bakal tetap terkendali, tepat di sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.

"Dorongan pertumbuhan ekonomi ke depan ini tidak akan mendorong inflasi," tegas Deputi Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti.

Pernyataan itu disampaikannya dalam acara Starting Year Forum 2026 di Jakarta, Kamis (22/1/2026) lalu.

Destry kemudian membeberkan sejumlah data yang mendukung optimisme itu. Indikator sistem pembayaran, misalnya, menunjukkan velocity of money yang tinggi. Apa artinya? Aktivitas transaksi dan perputaran uang di masyarakat tetap berjalan dengan lancar, sebuah sinyal positif untuk perekonomian.

Di sisi lain, perbaikan juga mulai terlihat dari sisi intermediasi perbankan. Data per Desember 2025 mencatat kredit tumbuh 9,6 persen. Yang menggembirakan, porsi terbesarnya justru datang dari kredit investasi.

“Ini yang kami harapkan bisa menstimulasi ekonomi,” ujar Destry lagi.

Dengan landasan yang tampak kuat ini, BI pun memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan lebih tinggi. Angkanya diprediksi berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen. Bandingkan dengan proyeksi 2025 yang 'hanya' di rentang 4,7 persen hingga 5,5 persen.

Menurut Destry, ruang untuk tumbuh masih terbuka lebar. Pasalnya, ekonomi nasional saat ini dinilai masih bergerak di bawah potensi optimalnya. Masih ada celah untuk dikejar.

Nah, untuk menjaga momentum sekaligus stabilitas, BI tidak tinggal diam. Mereka menerapkan bauran kebijakan yang komprehensif. Kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran digerakkan bersamaan. Semua ini didukung pula oleh upaya pendalaman pasar uang serta dorongan untuk kebijakan ekonomi dan keuangan hijau.

Soal stabilitas nilai tukar dan likuiditas? BI juga aktif turun tangan. Mereka melakukan ekspansi likuiditas, salah satunya melalui Kredit Likuiditas yang nilainya mencapai sekitar Rp388 triliun. Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder juga menjadi bagian dari langkah ini.

"Bank Indonesia punya komitmen untuk masuk dan menyediakan likuiditas guna menggerakkan perekonomian," tutur Destry menegaskan komitmen lembaganya.

Secara keseluruhan, nada yang disampaikan BI terasa optimis namun tetap waspada. Mereka yakin fondasinya kuat, tapi tetap bersiap dengan berbagai instrumen kebijakan untuk memastikan pertumbuhan berjalan mulus dan stabil.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar