Ki Bandung dan Kunci Kuningan yang Menjaga Ingatan di Imogiri

- Kamis, 22 Januari 2026 | 08:06 WIB
Ki Bandung dan Kunci Kuningan yang Menjaga Ingatan di Imogiri

Kabut pagi masih menggantung malas di perbukitan Imogiri. Gerbang kayu tua di kompleks makam itu berderit pelan dibuka. Aroma tanah basah dan sisa kemenyan langsung menyergap, menyambut langkah-langkah pertama para peziarah. Di balik pintu, seorang lelaki bersarung lurik merapikan ikat kepalanya. Tangannya memutar kunci kuningan besar ritual harian yang sudah ia jalani puluhan tahun.

Dia adalah Bekel Jogo Sukirjo, tapi semua orang memanggilnya Ki Bandung. Sebagai juru kunci Makam Raja-Raja Imogiri, hidupnya diabdikan untuk menjaga tempat peristirahatan terakhir raja-raja Mataram ini. Bagi Ki Bandung, ini bukan cuma pekerjaan. Ini amanah turun-temurun, sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar daftar tugas.

“Pagi itu waktu paling jujur,” ucap Ki Bandung, suaranya rendah tapi jelas terdengar di keheningan yang belum tercabik.

“Sunyinya masih murni, belum diganggu hiruk-pikuk pikiran manusia. Orang yang datang di waktu begini, biasanya niatnya masih bersih, belum banyak dikotori urusan duniawi.”

Itulah kenapa ia selalu memilih membuka gerbang di pagi buta. Sebelum matahari sepenuhnya naik, ia sudah sibuk memastikan halaman bersih dan setiap peziarah paham tata caranya. Aturan berpakaian jarik dan kemben sering dianggap merepotkan oleh sebagian pengunjung. Tapi Ki Bandung punya pandangan lain.

“Datang ke tempat leluhur, ego harus diturunkan. Pakaian adat itu simbolnya. Lambang kerendahan hati,” katanya sambil mempersilakan seorang pengunjung masuk.

Perannya memang kompleks. Ia bukan penjaga pintu biasa. Ia penjaga tata krama, penjaga etika, sekaligus penjaga nuansa spiritual yang menyelimuti kompleks makam ini.

Nilai-Nilai yang Hidup di Balik Batu Nisan

Kisah Imogiri tak bisa dipisahkan dari Keraton Yogyakarta. Tempat ini, bagi banyak kalangan, adalah perpanjangan nilai-nilai keraton di luar tembok istana. Asmuri, seorang abdi dalem keraton yang kerap terlibat ritual di sini, punya penjelasan yang gamblang.

“Imogiri itu bukan tempat wisata biasa,” tegas Asmuri.

“Ini ruang budaya dan spiritual. Di sini, manusia diingatkan satu hal sederhana: setinggi apa pun derajatmu, akhirnya kembali ke tanah juga. Makanya, orang harus datang dengan sikap menunduk, bukan cuma untuk melihat-lihat.”

Setiap detail di Imogiri punya makna. Tata ruang, posisi gapura, bahkan anak tangga yang jumlahnya ratusan semuanya dirancang dengan filosofi Jawa yang dalam. Menaiki tangga itu ibarat laku hidup: butuh usaha, butuh kesabaran, dan tidak selalu mudah.

Ki Bandung sendiri kerap melihat bagaimana suasana makam menjadi cermin bagi batin pengunjung. “Orang yang datang dengan hati marah atau penuh kesombongan, biasanya tidak betah lama,” ujarnya, senyum tipis mengembang.

“Tempat ini mengajarkan dengan pelan, tanpa banyak bicara. Sebaliknya, yang hatinya tenang justru bisa duduk berjam-jam di sini.”

Menjaga Ritual di Tengah Hujan dan Angin

Ada hari-hari tertentu dimana kesibukan memuncak. Menjelang malam satu Suro, misalnya. Peziarah membanjir dari berbagai penjuru. Ki Bandung dan kawan-kawannya bekerja ekstra keras menjaga segala sesuatunya tetap khidmat dan tertib.

“Kondisi cuaca? Bukan halangan,” kata Ki Bandung tentang komitmennya.

“Kadang hujan deras, angin kencang. Tapi pintu tetap dibuka. Bagi sebagian orang, datang ke sini adalah bagian dari ikhtiar batin mereka yang paling dalam.”

Ia ingin meluruskan satu hal. Ritual di Imogiri, baginya, bukan sekadar urusan mistis. Intinya adalah doa dan niat yang tulus. “Yang datang memang macam-macam tujuannya. Tapi yang kami jaga ya ketertiban dan niat baik itu sendiri,” jelasnya.

Cerita dari Mereka yang Datang

Amin Zainuri duduk bersila di sebuah sudut halaman. Di tangannya, sekantong bunga setaman. Wajahnya tenang, matanya terpejam sebentar sebelum bunga-bunga itu ia taburkan di pusara.

“Kalau sudah sampai di sini, rasanya pikiran lebih tertata,” aku Amin, yang rutin berziarah tiap tahun meski bukan keturunan kerajaan.

“Kita diingatkan dengan sangat nyata bahwa hidup ini cuma sementara.”

Bagi pria ini, Imogiri lebih dari sekadar situs sejarah. Ini adalah ruang refleksi. Tempat untuk berdialog dengan diri sendiri, jauh dari kesibukan dunia luar yang tak pernah berhenti menuntut. “Di luar sana kita sibuk mengejar segalanya. Di sini, kita justru diajak untuk diam,” katanya.

Peran para juru kunci dan abdi dalem, menurutnya, krusial. “Coba bayangkan kalau tidak ada mereka. Mungkin tempat ini sudah kehilangan ‘ruh’-nya sejak lama.”

Menjaga Ingatan di Tengah Laju Zaman

Di luar pagar makam, dunia bergerak cepat. Warung kopi modern bermunculan, kendaraan lalu lalang ramai. Tantangan terbesar justru datang dari dalam: regenerasi.

Ki Bandung menghela napas. Ia akui, tak banyak anak muda yang berminat meneruskan tugas sebagai juru kunci. Hidup harus sederhana, penuh disiplin, dan dituntut kesabaran tingkat tinggi. “Anak-anak sekarang maunya yang cepat, instan. Padahal, menjaga tradisi itu butuh waktu dan ketenangan yang justru susah dicari di zaman now,” ujarnya.

Kekhawatiran serupa diungkapkan Asmuri. Jika generasi muda makin menjauh dari sejarah dan budayanya sendiri, nilai-nilai yang dijaga di Imogiri lambat laun bisa memudar begitu saja. “Keraton dan Imogiri itu dua sisi dari koin yang sama. Kalau satu dilupakan, kita sudah kehilangan sebagian identitas,” tegasnya.

Menjelang sore, Ki Bandung kembali berdiri di gerbang kayu itu. Para peziarah satu per satu beranjak pergi. Dengan gerakan hati-hati, ia mendorong daun pintu besar itu tertutup. Perlahan. Seolah tak ingin mengusik keheningan yang mulai merayap kembali.

“Setiap hari saya buka dan tutup. Rutinitas yang sama,” gumamnya.

“Tapi sebenarnya, yang saya jaga bukan pintunya. Melainkan ingatan.”

Dari puncak Imogiri, sunyi kembali merajai. Di antara batu nisan dan tangga-tangga yang telah menyaksikan ratusan tahun berlalu, para penjaga seperti Ki Bandung terus merawat warisan yang tak tertulis di buku mana pun. Warisan yang hidup justru dalam laku sehari-hari, dalam kesetiaan mereka menjaga setiap detik kesunyian.

Selama masih ada yang setia menjaga sunyi, tradisi itu akan tetap bernapas. Meski zaman di luar pagar terus berubah tanpa ampun.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar