Menyusul sidak di Tanjung Balai Karimun yang menemukan 1.000 ton beras ilegal, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman angkat bicara. Bagi dia, urusannya bukan cuma soal kerugian negara. Ada bahaya lain yang jauh lebih mengkhawatirkan.
“Dampak yang jauh lebih berbahaya adalah efek lanjutannya,” tegas Amran dalam keterangan resminya, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, petani jadi kehilangan semangat untuk bertanam. Dan itu ancaman serius buat sektor pertanian kita. Padahal, produksi beras dalam negeri lagi surplus-surplusnya.
Dia punya alasan kuat untuk khawatir. Sekitar 115 juta jiwa di negeri ini hidupnya bergantung pada lahan pertanian. Nah, kalau beras ilegal membanjiri pasar saat stok melimpah, harga gabah di tingkat petani pasti anjlok. Imbasnya langsung terasa di kantong mereka.
“Kalau misalnya harga gabah turun Rp1.000 saja, petani yang punya satu hektare sawah bisa kehilangan sekitar Rp5 juta. Yang setengah hektare bisa kehilangan Rp2,5 juta. Yang sepertiga hektare bisa kehilangan Rp1,5 juta,” jelas Amran.
“Bagi petani, kehilangan Rp10 ribu, Rp50 ribu, bahkan Rp100 ribu itu sangat berarti.”
Namun begitu, masalahnya tak berhenti di situ. Amran juga mengingatkan soal risiko kesehatan. Komoditas ilegal itu tidak melalui prosedur karantina yang ketat. Bisa saja membawa penyakit yang belum ada di Indonesia.
Artikel Terkait
Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Pelanggar Aturan di Kawasan Hutan
Gubernur DKI Siapkan Opsi WFH dan Sekolah Daring Jika Hujan Ekstrem Kembali
Audi Buka Rahasia Livery F1 2026, Sinyal Era Baru di Sirkuit
Jacksen F. Tiago Ambil Alih Kendali MilkLife Soccer Challenge Putri