Asap tipis mengepul dari teko logam yang menghitam. Di bawah cahaya lampu jalan yang mulai menguning, aroma jahe bakar beradu dengan wangi nasi kucing yang terbungkus daun pisang. Denting sendok di gelas kaca jadi musik latar di sudut trotoar sempit itu. Di bangku kayu panjang yang sudah melapuk, sebuah ruang sosial tercipta. Tanpa sekat. Tanpa protokol. Dan yang jelas, tanpa kasta.
Angkringan memang sederhana. Tapi siapa sangka, tempat ini punya kekuatan magis yang jauh melampaui sekadar pengisi perut. Ia seperti rahim bagi ribuan cerita yang lahir tiap malam. Di balik uap kopi atau wedang, tersimpan denyut nadi kehidupan. Orang datang bukan cuma untuk kenyang, tapi mencari pelarian, teman bicara, atau sekadar pendengar bagi keluh yang tak tersampaikan di tempat lain.
Basuki Tohari (55) sudah bertahun-tahun menghabiskan malam di balik gerobak kayunya. Bagi lelaki berkopiah ini, pekerjaannya bukan cuma meracik minuman. Ia jadi saksi bisu dari begitu banyak kata yang terlontar di atas meja dagangannya.
“Angkringan itu bukan cuma jualan gorengan, kopi, wedang jahe, ataupun nasi kucing,” ujar Basuki sambil menata sate usus di nampan plastik.
Baginya, ada komoditas lain yang tak tertulis di menu, tapi selalu laris tiap malam: empati.
“Kalau ditanya yang dicari orang apa, ya bukan cuma kenyang. Di sini itu tempat orang berkeluh kesah. Setiap hari saya denger cerita yang berbeda-beda. Ada yang bahas politik sampai debat panjang, ada yang bahas kerjaan, ada yang juga yang bercanda. Pokoknya banyak macam ragamnya,” tambahnya, suaranya tenang.
Ia punya analogi yang cerdas. Menurut Basuki, angkringan itu ibarat ‘ruang tamu bersama’. Siapa pun boleh masuk, duduk, dan bicara tanpa perlu jaga image. Di hadapannya, seorang pejabat dan seorang buruh bisa jadi sama-sama “telanjang” melepas atribut sosial demi menyesap segelas kopi yang sama.
Di sisi lain, ketertarikan masyarakat terhadap angkringan dirasakan betul oleh Ratna Ningsih (47). Sebagai ibu rumah tangga yang kerap penat dengan rutinitas, tempat ini jadi pelariannya.
“Saya datang hampir tiap malam. Biasanya ya cuma buat beli wedang jahe atau teh panas. Tapi juga sering makan di sini. Hitung-hitung mengobati rasa capek,” tutur Ratna.
Penampilannya kontras dengan pengunjung kafe kekinian. Cuma daster batik dan sandal jepit. Tapi justru itu poinnya.
“Wah, saya malah enggak suka sama kafe-kafe begitu. Mending di sini, bisa duduk pakai sandal jepit, pakai daster, sambil ngerokok, dan ngobrol sama siapa saja,” katanya sambil tertawa kecil.
Bagi Ratna, kemewahan sejati di angkringan bukan bisa dibeli dengan uang. Itu datang dari kehangatan antar manusia yang spontan. Ia sering ngobrol mendalam dengan orang asing yang kebetulan duduk di sebelahnya. “Nggak kenal, tapi tiba-tiba sudah ngobrol saja. Menurut saya obrolan di sini hangat, jujur tanpa dibuat-buat sama sekali,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Markas UNRWA di Yerusalem Timur Diratakan, Israel Dituding Langgar Hukum Internasional
KPK Tetapkan Wali Kota Madiun Tersangka, Dugaan Pungli dan Gratifikasi Rp1,7 Miliar
Wali Kota Madiun Tersandung Kasus CSR dan Fee Proyek, Rp1,7 Miliar Disita KPK
KPK Beraksi Dua Kali Sehari, Istana: Pekerjaan Rumah yang Harus Diperangi