Makanya, wacana menghentikan insentif buat kendaraan listrik dinilai sangat berisiko. Bukan cuma bikin transisi energi mandek, tapi juga berpotensi memperbesar tekanan fiskal negara di tengah ketidakpastian yang makin menjadi-jadi.
Abra mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan kembali insentif fiskal, seperti PPN DTP, khususnya untuk produk yang memenuhi TKDN. Alasannya sederhana tapi mendasar.
"Insentif EV tidak hanya mendorong permintaan, tetapi juga berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja, percepatan investasi, serta pengurangan beban subsidi energi," jelasnya.
Proyeksi untuk 2026 memang cukup mencemaskan. Subsidi energi diprediksi bisa menembus angka Rp210 triliun. Risiko defisit fiskal pun mengintai, berpotensi mendekati atau bahkan melampaui batas 3 persen dari PDB.
Melihat itu semua, Abra punya kesimpulan. “Dalam jangka menengah, perluasan penggunaan EV dapat membantu menahan lonjakan subsidi BBM dan listrik, sekaligus memperkuat industri otomotif dan baterai nasional,” katanya.
Jadi, menjaga momentum ini bukan sekadar pilihan, tapi sebuah keharusan.
Artikel Terkait
Keterlambatan Barang Impor Ancam Stok Lebaran 2026, HIPPINDO Minta Koordinasi Pemerintah
Terminal Pulogebang Masih Sepi, Puncak Mudik Diprediksi 17-19 Maret
Dua Perusahaan China Menang Lelang PLTSa Bekasi dan Denpasar, Dampak Ekonomi Ditaksir Rp14 Triliun
Harga Pangan Mulai Stabil, Inflasi Terkendali di Pertengahan Ramadan