Aceh Bangkit: Pembangunan Permanen 7 Jembatan dan 28 Titik Longsor Dimulai

- Selasa, 20 Januari 2026 | 11:50 WIB
Aceh Bangkit: Pembangunan Permanen 7 Jembatan dan 28 Titik Longsor Dimulai

Banjir bandang yang melanda Aceh beberapa waktu lalu memang meninggalkan jejak kerusakan yang parah. Jalan-jalan nasional porak-poranda. Data terakhir menyebutkan, setidaknya ada 37 titik banjir, 362 titik longsor, dan yang paling krusial, 16 jembatan putus total. Untungnya, akses utama ke semua kabupaten dan kota kini sudah bisa dilalui lagi berkat penanganan darurat yang cepat.

Namun begitu, pekerjaan belum selesai. Kementerian PU kini beralih ke fase berikutnya: membangun solusi permanen. Mereka menyiapkan penanganan menyeluruh untuk 7 jembatan dan 28 titik longsor di ruas nasional. Targetnya jelas, agar infrastruktur di Aceh nantinya tak gampang ambruk diterjang bencana.

Menteri PU Dody Hanggodo sendiri menegaskan prioritas pemerintah.

"Dalam 50 hari pertama, fokus utama kami adalah memastikan tidak ada satu pun kabupaten dan kota yang terisolasi. Memang saat ini masih terdapat beberapa desa dan kecamatan yang aksesnya terbatas, dan itu menjadi sasaran penanganan lanjutan kami. Tim di lapangan terus bekerja tanpa henti bersama TNI dan Polri,"

ujarnya dalam keterangan pers Senin (19/1/2026). Intinya, menjaga arus logistik dan ekonomi masyarakat agar tetap bergerak adalah hal yang paling utama.

Dari tujuh jembatan yang akan dibangun permanen, enam di antaranya saat ini masih mengandalkan jembatan bailey sementara. Pengerjaan konstruksi tetapnya ditargetkan mulai paling lambat Januari 2026. Satu jembatan lain, yaitu Jembatan Pantai Dona, malah sudah lebih dulu dimulai pembongkarannya untuk segera diganti dengan yang baru. Jembatan ini mendapat perhatian khusus setelah arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.

Lalu, jembatan mana saja yang masuk daftar prioritas?

Pertama ada Jembatan Krueng Tingkeum di ruas Bireuen. Aksesnya sudah pulih sejak akhir Desember lalu berkat bailey, dan pemancangan pertama untuk jembatan duplikasinya rencananya dimulai 20 Januari ini. Kemudian Jembatan Krueng Meureudu di ruas menuju Banda Aceh. Fokus penanganannya nanti adalah merehabilitasi jembatan lama sekaligus memperbaiki daerah aliran sungai (DAS) di sekitarnya untuk mencegah gerusan.

Jembatan Teupin Mane dan Krueng Beutong juga masuk dalam daftar. Yang satu akan diganti dengan jembatan rangka, sementara yang lain lebih ditekankan pada rehabilitasi DAS dan rekonstruksi badan jalan yang hilang. Sama halnya dengan Jembatan Lawe Mengkudu 1 dan Krueng Pelang, di mana perbaikan permanen akan menyentuh struktur jembatan dan kondisi tanah di sekelilingnya.

Di sisi lain, penanganan titik-titik longsor juga berjalan paralel. Ada puluhan titik yang tersebar di berbagai ruas jalan, seperti di Bireuen-Bener Meriah, sekitar Takengon, menuju Kutacane, dan di ruas Pameu-Genting Gerbang. Semua ini sedang ditangani secara bertahap.

Dengan dimulainya pekerjaan permanen mulai bulan ini, pesan Kementerian PU cukup tegas. Mereka tak cuma ingin membenahi yang rusak, tapi juga membangun ketahanan. Harapannya, jalan dan jembatan di Aceh ke depan jadi lebih andal, lebih aman, dan tentu saja, lebih siap menghadapi tantangan alam.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar