Warisan yang Terasa Hingga Kini
Bandung yang sejuk, hijau, dan dikelilingi rangkaian gunung, bukanlah suatu kebetulan. Lanskap indah ini punya sejarah yang dalam. Semuanya bermula dari sebuah raksasa purba: Gunung Sunda.
Gunung ini perlahan-lahan membentuk lebih dari sekadar cekungan tanah. Ia membentuk pola hidup, lingkungan, bahkan dalam rentang waktu yang sangat panjang ciri fisik masyarakat yang mendiaminya. Alam bekerja jauh sebelum manusia memberi nama.
Menurut catatan geolog Rein van Bemmelen, gunung api purba ini dulu menjulang tinggi, mungkin mencapai empat ribu meter. Ia adalah salah satu yang terbesar di Pulau Jawa pada masanya.
Letusan dan keruntuhannya yang dahsyat membentuk Kaldera Sunda. Dari sanalah kemudian lahir gunung-gunung yang kita kenal sekarang: Tangkuban Parahu, Burangrang, Bukit Tunggul. Mereka mengitari Bandung bagai mangkuk raksasa yang melindungi.
Proses geologinya rumit, dimulai dari penunjaman Lempeng Indo-Australia. Aktivitas vulkaniknya berlangsung ratusan ribu tahun, merombak total bentang alam Jawa Barat bagian tengah.
Fase terbesarnya terjadi sekitar 105 ribu tahun silam. Letusan plinian yang maha dahsyat itu melontarkan material vulkanik dalam volume yang sulit dibayangkan lebih dari seratus kilometer kubik. Abu dan batuan menyebar ke mana-mana.
Material itu menutup aliran Sungai Citarum Purba. Akibatnya, terbentuklah danau purba yang sangat luas.
Danau itu bertahan ribuan tahun sebelum akhirnya mengering. Saat air surut, muncullah Cekungan Bandung yang subur. Tanahnya kaya mineral dari endapan vulkanik, menjadi ruang hidup yang ideal bagi manusia Sunda sejak zaman prasejarah. Dari sinilah relasi intim antara alam dan budaya mulai terjalin.
Dari Puncak Putih Menjadi Sebuah Nama
Namun, kisah Gunung Sunda tak cuma soal batuan dan letusan. Ia hidup juga dalam ingatan kolektif dan bahasa. Menurut penuturan lisan yang dicatat media lokal, gunung ini dahulu disebut Gunung Chuda. Kata "chuda" berasal dari bahasa Sanskerta, artinya putih.
Penamaan ini punya alasan visual yang kuat. Pada masa Pleistosen, suhu global lebih dingin. Puncak gunung tropis yang sangat tinggi berpotensi diselimuti es abadi.
Artikel Terkait
Alfrida Pasongli: Dari Kios BRILink di Dekai, Menggerakkan Ekonomi Warga Yahukimo
Prabowo Buka Diplomasi Global dengan Singgah di London Sebelum Pidato di Davos
Trump Ancang-ancang Tarif, Greenland Jadi Bahan Tawar
Hujan Deras Lumpuhkan 82 Perjalanan Kereta, Lintasan di Semarang dan Jakarta Terendam