Gunung Sunda Purba: Dari Puncak Putih hingga Jejak Kulit Cerah di Tanah Pasundan

- Senin, 19 Januari 2026 | 07:06 WIB
Gunung Sunda Purba: Dari Puncak Putih hingga Jejak Kulit Cerah di Tanah Pasundan

Warisan yang Terasa Hingga Kini

Bandung yang sejuk, hijau, dan dikelilingi rangkaian gunung, bukanlah suatu kebetulan. Lanskap indah ini punya sejarah yang dalam. Semuanya bermula dari sebuah raksasa purba: Gunung Sunda.

Gunung ini perlahan-lahan membentuk lebih dari sekadar cekungan tanah. Ia membentuk pola hidup, lingkungan, bahkan dalam rentang waktu yang sangat panjang ciri fisik masyarakat yang mendiaminya. Alam bekerja jauh sebelum manusia memberi nama.

Menurut catatan geolog Rein van Bemmelen, gunung api purba ini dulu menjulang tinggi, mungkin mencapai empat ribu meter. Ia adalah salah satu yang terbesar di Pulau Jawa pada masanya.

Letusan dan keruntuhannya yang dahsyat membentuk Kaldera Sunda. Dari sanalah kemudian lahir gunung-gunung yang kita kenal sekarang: Tangkuban Parahu, Burangrang, Bukit Tunggul. Mereka mengitari Bandung bagai mangkuk raksasa yang melindungi.

Proses geologinya rumit, dimulai dari penunjaman Lempeng Indo-Australia. Aktivitas vulkaniknya berlangsung ratusan ribu tahun, merombak total bentang alam Jawa Barat bagian tengah.

Fase terbesarnya terjadi sekitar 105 ribu tahun silam. Letusan plinian yang maha dahsyat itu melontarkan material vulkanik dalam volume yang sulit dibayangkan lebih dari seratus kilometer kubik. Abu dan batuan menyebar ke mana-mana.

Material itu menutup aliran Sungai Citarum Purba. Akibatnya, terbentuklah danau purba yang sangat luas.

"Peristiwa itu membentuk Danau Bandung Purba," jelas Taufik Bachtiar, mengutip kajiannya pada 2009.

Danau itu bertahan ribuan tahun sebelum akhirnya mengering. Saat air surut, muncullah Cekungan Bandung yang subur. Tanahnya kaya mineral dari endapan vulkanik, menjadi ruang hidup yang ideal bagi manusia Sunda sejak zaman prasejarah. Dari sinilah relasi intim antara alam dan budaya mulai terjalin.

Dari Puncak Putih Menjadi Sebuah Nama

Namun, kisah Gunung Sunda tak cuma soal batuan dan letusan. Ia hidup juga dalam ingatan kolektif dan bahasa. Menurut penuturan lisan yang dicatat media lokal, gunung ini dahulu disebut Gunung Chuda. Kata "chuda" berasal dari bahasa Sanskerta, artinya putih.

Penamaan ini punya alasan visual yang kuat. Pada masa Pleistosen, suhu global lebih dingin. Puncak gunung tropis yang sangat tinggi berpotensi diselimuti es abadi.

Dengan ketinggian ekstremnya, sangat mungkin puncak Gunung Sunda tampak putih berkilau dari kejauhan. Warna itu memberikan kesan mendalam bagi para pengembara masa lalu.

Dalam pelafalan lokal, "chuda" perlahan berubah menjadi "Sunda". Pergeseran bunyi ini wajar terjadi. Dan makna putih itu melekat secara simbolis, menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan lingkungan dengan manusia.

Lingkungan, Gaya Hidup, dan Sebuah Adaptasi

Lantas, bagaimana dengan anggapan bahwa orang Sunda seringkali berkulit lebih cerah? Jawabannya tidak tunggal dan jauh dari sederhana.

Pertama, lihatlah wilayah intinya. Bandung, Garut, Tasikmalaya semua daerah ini terletak di dataran tinggi yang sejuk. Suhu yang lebih rendah berarti intensitas radiasi ultraviolet juga berkurang. Paparan sinar matahari yang tidak terlalu keras memengaruhi produksi melanin, pigmen pelindung kulit. Lingkungan sejuk membuat kebutuhan akan melanin secara alami lebih rendah.

Gaya hidup tradisional juga berperan. Masyarakat Sunda sejak lama hidup dekat dengan hutan dan sawah. Aktivitas berat biasanya dilakukan pada pagi atau sore hari, menghindari terik siang. Pola ini, tanpa disadari, mengurangi paparan matahari berlebih dalam jangka panjang.

Di sisi lain, faktor genetika jelas tak bisa diabaikan. Wilayah Sunda adalah persimpangan migrasi. Ada percampuran gen Austronesia, Melanesia, dan Asia Daratan. Kombinasi inilah yang menghasilkan variasi warna kulit. Di dataran tinggi, variasi itu cenderung mengarah pada warna yang lebih cerah dibandingkan dengan wilayah pesisir yang terbuka.

Namun begitu, penting untuk menempatkan semua ini secara proporsional. Dalam budaya Sunda, nilai seseorang tidak ditimbang dari warna kulitnya. Konsep seperti someah (ramah), lemes (lembut), dan silih asah asih asuh (saling memanusiakan) jauh lebih utama. Kulit cerah hanyalah jejak sampingan dari adaptasi ekologis yang panjang, bukan penanda superioritas apa pun.

Dialog Panjang Bumi dan Manusia

Pada akhirnya, Gunung Sunda Purba telah membentuk ruang hidup yang unik. Ruang itu memengaruhi segalanya: iklim, pertanian, pemukiman, hingga fisik penghuninya. Alam bekerja dengan sabar, konsisten, dalam rentang waktu ratusan ribu tahun.

Jadi, ketika orang menghubungkan Sunda dengan kulit cerah, sebenarnya yang dibicarakan adalah sebuah narasi panjang. Cerita tentang gunung yang runtuh, danau yang mengering, tanah yang subur, dan manusia yang beradaptasi. Cerita tentang bagaimana alam, secara perlahan namun pasti, membentuk budaya.

Identitas bukanlah mitos yang kosong. Ia adalah hasil dari dialog tanpa henti antara bumi dan manusia yang tinggal di atasnya. Warisan Gunung Sunda masih kita hirup udaranya, kita lihat pemandangannya, dan kita rasakan dalam denyut nadi kota Bandung hingga hari ini.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar