Mercedes-Benz Asal Cikarang Cetak Sejarah, Kirim Bus Pertama ke Thailand

- Jumat, 16 Januari 2026 | 12:36 WIB
Mercedes-Benz Asal Cikarang Cetak Sejarah, Kirim Bus Pertama ke Thailand

Dari pabrik perakitannya di Cikarang, sebuah bus Mercedes-Benz bergerak menuju pelabuhan. Kamis lalu (15/1/2026), unit bus OH 1626 L Euro 5 itu resmi memulai perjalanannya ke Thailand. Ini bukan ekspor biasa. Untuk pertama kalinya, sebuah bus Mercedes-Benz yang dirakit sepenuhnya di Indonesia, menembus pasar Negeri Gajah Putih.

PT Daimler Commercial Vehicles Manufacturing Indonesia (DCVMI) bersama PT Daimler Commercial Vehicles Indonesia (DCVI) yang mencatatkan momen bersejarah ini. Langkah ini, di mata mereka, lebih dari sekadar pengiriman produk.

Direktur Utama DCVMI, Shravana T. Kumar, tak menyembunyikan kebanggaannya.

“Peluncuran ini menunjukkan kesiapan Indonesia dalam menyediakan solusi bus lengkap yang memenuhi standar keselamatan Eropa dan regional yang ketat. Dari fasilitas Cikarang, kami tidak hanya memproduksi kendaraan tetapi juga membangun kepercayaan global terhadap kemampuan manufaktur Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, ekspor ini adalah bukti nyata bahwa industri otomotif nasional sudah siap bersaing di kancah regional. Ambisi jangka panjang Daimler Truck pun semakin jelas: menjadikan Indonesia sebagai basis manufaktur kendaraan niaga yang andal.

“Dulu, saat peresmian pabrik, kami sudah bicara soal strategi ekspor. Nah, hari ini komitmen itu kami wujudkan,” tambah Shravana.

“Ekspor OH 1626 L Euro 5 ke Thailand mencerminkan fokus jangka panjang kami pada kualitas, keselamatan, dan pertumbuhan berkelanjutan di kawasan ASEAN.”

Bus yang dikirim ini sendiri punya cerita. Bodinya adalah hasil karya PT Laksana Bus Manufaktur, tipe Legacy SR3 Neo Panorama. Pengembangannya dilakukan dengan sangat detail, menyesuaikan beragam regulasi internasional yang ketat sekaligus selera pasar Thailand dan ASEAN.

Lebih Dari Sekedar Mesin

Dari sisi teknis, banyak hal yang disiapkan. Sasis Mercedes-Benz itu sudah dibekali sistem pengereman ABS sebagai standar. Konfigurasi mesin belakangnya memberi keseimbangan yang baik, didukung rangka sasis yang kokoh.

Tapi yang paling diperhatikan adalah soal keselamatan. Laksana Bus Manufaktur memastikan bodi bus ini lolos berbagai aturan internasional. Mulai dari UNECE R66 untuk proteksi saat terguling, UNECE R118 untuk material interior tahan api, sampai ECE R43 untuk kaca keselamatannya.

Belum cukup sampai di situ. Perlindungan penumpang ditingkatkan dengan kursi yang mematuhi UNECE R80, sabuk pengaman standar R14, dan pintu darurat yang dirancang khusus sesuai regulasi Thailand. Bahkan lampu depannya didesain ulang untuk visibilitas yang lebih baik di pasar ekspor.

“Ini membuktikan, bodi bus buatan Indonesia bisa memenuhi standar Eropa yang tinggi, sekaligus mematuhi persyaratan khusus dari pasar tujuan,” tegas Shravana.

Dengan langkah perdana ini, posisi Indonesia dalam peta manufaktur Daimler Truck di ASEAN terasa semakin solid. Kolaborasi antara standar global dan kemampuan lokal rupanya menjadi resep ampuh. Bukan cuma untuk mendorong ekspor, tapi juga menciptakan nilai tambah dan memperkuat rantai pasok regional ke depannya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar