Honda Tersudut: Gempuran EV China dan Perubahan Selera Konsumen Menggerus Pasar

- Jumat, 16 Januari 2026 | 08:36 WIB
Honda Tersudut: Gempuran EV China dan Perubahan Selera Konsumen Menggerus Pasar

Tahun 2025 ternyata tak ramah bagi industri roda empat di dalam negeri. Pasar otomotif nasional tercatat merosot, dan defisitnya cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya. Lesunya pasar ini jelas dirasakan oleh para pemain, tak terkecuali Honda. Pabrikan asal Jepang dengan logo ‘H’ yang ikonik itu tampak kehilangan momentum.

Menurut pengamat otomotif Yannes Pasaribu dari ITB, Honda memang tengah kewalahan bersaing. Situasinya makin pelik dengan gempuran merek-merek China yang datang dengan harga menarik dan inovasi yang memikat. Preferensi konsumen pun bergeser.

”Penurunan penjualan Honda di Indonesia pada 2025 bisa dibaca sebagai hasil interaksi yang saling memperburuk antara ketidakselarasan Honda terhadap model elektrifikasi terjangkau dan agresivitas EV China di segmen harga yang mirip,”

Yannes menyampaikan hal itu pada Rabu (14/1/2026).

Dia menambahkan, pasar sekarang didominasi oleh kalangan milenial dan Gen Z. Sayangnya, arah produk Honda dinilai tak lagi sejalan dengan selera mereka. Loyalitas terhadap merek sudah bukan jadi prioritas utama. Yang dicari sekarang adalah nilai terbaik untuk uang yang dikeluarkan fitur dan kelengkapan yang maksimal dengan harga yang masuk akal.

”Mereka mengejar teknologi yang terasa canggih, fitur lengkap, desain modern, dan kenyamanan harian dengan dana terbatas. Sementara, Honda belum mampu memasok kombinasi nilai itu secara kuat”

Begitu penjelasannya.

Tekanan itu tak cuma datang dari perubahan selera belaka. Honda juga terjepit oleh pagu harga yang ditawarkan merek China. Akibatnya, hampir semua segmen yang dikuasai Honda tergerus, mulai dari LCGC sampai SUV compact.

Lihat saja Honda Brio. Harganya berkisar antara Rp 170 hingga 258 juta, tapi kelengkapannya biasa saja. Di sisi lain, BYD Atto 1 hadir di kisaran harga serupa namun dibekali fitur-fitur canggih yang jelas lebih memikat bagi konsumen zaman sekarang.

“Honda semakin sulit tampil kompetitif ketika ada BEV murah. Atto 1 dengan harga mulai Rp 199 juta hadir dengan fitur asistensi mengemudi, Blade Battery, dan biaya operasional rendah,”

katanya.

Bahkan salah satu andalan penjualan Honda, HR-V, eksistensinya mulai terusik. Serbuan produk China di segmen yang paling gemuk ini begitu masif. BYD Atto 3, Jaecoo J5 EV, hingga Chery Omoda E5, semuanya menawarkan teknologi mutakhir plus biaya kepemilikan yang rendah.

“Pada akhirnya, keterlambatan Honda di elektrifikasi murah membuka celah dan agresivitas China, mengisinya dengan inovasi serta harga yang sangat kompetitif,”

ujarnya.

”Sehingga, Honda bukan hanya tertinggal dari sisi elektrifikasi, tetapi juga kalah pada metrik utama yang kini paling menentukan keputusan pembelian, yakni value for money,”

pungkas Yannes.

Melihat Kembali Performa Empat Tahun

Jika ditarik mundur, sebenarnya performa Honda di Indonesia sudah menunjukkan tren yang kurang menggembirakan hingga akhir 2025. Data dari Gaikindo menunjukkan, penjualan wholesales Honda anjlok hingga 40,4 persen.

Ceritanya berbeda di 2022, pasca pandemi. Saat itu Honda masih bisa mencatatkan penjualan tahunan 131.280 unit, meraih pangsa pasar 12,5 persen dan berada di posisi ketiga teratas.

Posisinya bahkan menguat di 2023. Pangsa pasar naik jadi 13,8 persen dengan penjualan 138.967 unit. Honda Brio jadi pahlawan saat itu, diandalkan karena konsumsi BBM-nya irit, harganya terjangkau, tapi tetap membawa aura premium khas Honda.

Memasuki 2024, angin berubah. Industri otomotif nasional sendiri berat, dengan total penjualan anjlok 13,9 persen. Honda termasuk yang terpukul paling keras di antara pabrikan Jepang, dengan penurunan penjualan 31,8 persen menjadi 94.742 unit. Pangsa pasarnya menyusut ke 10,9 persen.

Dan gejolak di 2025 makin menekan. Invasi brand China yang tak terbendung, ditambah daya beli yang lesu, jadi kombinasi mematikan. Hasilnya, penjualan Honda minus 40,4 persen, hanya 56.500 unit hingga akhir tahun. Posisinya tergeser dari peringkat ketiga sejak 2022, turun ke posisi kelima. Sebuah penurunan yang terasa cukup tajam.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar