Untuk general cargo, misalnya, mereka membidik volume lebih dari 427 ribu ton/m³ di tahun 2026. Angkutan kendaraan ditargetkan mencapai 14.464 unit, seiring dengan meningkatnya mobilitas logistik dan distribusi mobil atau motor antarpulau.
Di sisi lain, layanan angkutan ternak punya target 13.207 ekor. Layanan ini dianggap krusial, bukan cuma untuk bisnis, tapi juga untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Komoditas strategis dari wilayah timur Indonesia jadi perhatian utama di sini.
Soal infrastruktur, PELNI Logistics terus berbenah. Mereka berencana memperkuat kapasitas depo peti kemas yang jadi tulang punggung operasional. Tahun 2026 nanti, perusahaan menargetkan bisa mengoperasikan depo container di tiga titik strategis: Jakarta, Surabaya, dan Bitung. Kapasitas tampungnya ditargetkan lebih dari 17 ribu TEUs.
Caranya? Melalui optimalisasi standar layanan, digitalisasi pengelolaan, serta peremajaan armada container. Upaya ini diharapkan bisa mendongkrak kinerja secara keseluruhan.
Dengan modal jaringan 39 cabang, 12 terminal point, dan pengalaman lebih dari tiga dekade di sektor logistik maritim, PELNI Logistics terlihat optimis. Mereka yakin bisa terus berkontribusi pada sistem logistik nasional yang lebih efisien, andal, dan tentu saja, inklusif.
Artikel Terkait
AS Luncurkan Fase Kedua Rencana Gaza: Dari Gencatan Senjata ke Pemerintahan Teknokrat
Prabowo Beri Sinyal Kuat, Industri Tekstil dan Garmen Menanti Langkah Nyata
Musk Akhirnya Batasi Grok, Fitur Deepfake Seksual Picu Larangan Global
Roby Tremonti Merasa Disindir Aurelie Lewat Karakter Bobby dalam Buku