Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai bukan sekadar urusan perut kenyang. Menurut Kamar Dagang dan Industri (Kadin), inisiatif ini justru bisa menjadi mesin penggerak ekonomi yang ampuh. Bahkan, target pertumbuhan nasional hingga 8 persen pun terlihat lebih realistis dengan kehadirannya.
Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie, menekankan bahwa manfaat MBG itu berlapis. Di satu sisi, program ini investasi jangka panjang untuk mencetak generasi yang lebih sehat dan cerdas. Namun di sisi lain, dampak ekonominya bisa langsung dirasakan sekarang juga.
"Target 82 juta anak ini jelas sangat strategis untuk masa depan. Kita butuh lebih banyak insinyur, dokter, guru, juga atlet yang kuat," ujar Anindya di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
"Tapi jangan lupa, kita juga perlu menggerakkan perekonomian saat ini. Pertumbuhan kita masih berkisar di angka 5 persen. Semoga tahun ini bisa mencapai 5,4 atau 5,5 persen," tambahnya.
Menurutnya, implementasi melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berpotensi menciptakan gelombang lapangan kerja yang besar. Coba bayangkan: satu dapur bisa menyerap sekitar 50 tenaga kerja. Kalau dioperasikan selama 30 minggu, angkanya bisa meledak hingga 1,5 juta pekerjaan baru.
"Inilah yang kemarin disinggung Pak Menko Perekonomian. Hitungan kasar setiap 400 ribu pekerjaan baru menyumbang sekitar 1 persen pertumbuhan. Jadi, 1,5 juta itu setara dengan 3,5 persen. Jadi wajar jika Presiden dan Menko melihat MBG sebagai salah satu kendaraan menuju target 8 persen," papar Anindya.
Efeknya tak berhenti di situ. Anindya melihat geliat hilirisasi sektor agrikultur akan terdongkrak secara masif. Bayangkan kebutuhan harian untuk 82 juta porsi makanan di sekolah. Itu artinya permintaan luar biasa besar untuk telur, daging ayam, sayuran, ikan, dan berbagai komoditas pangan lainnya.
"Kalau menunya telur, ya butuh 82 juta butir telur. Kalau paha ayam, ya 82 juta paha. Belum lagi sayur-mayur dan lain-lain. Selama ini kita sering dengar hilirisasi di pertambangan, nah dengan MBG, hilirisasi agrikultur akhirnya benar-benar terjadi," imbuhnya.
Pola konsumsinya pun bisa disesuaikan dengan kearifan lokal. Daerah pesisir bisa mengandalkan ikan, sentra peternakan fokus pada ayam dan telur, sementara daerah lain mengembangkan komoditas andalan mereka sendiri.
"Dengan begitu, setiap provinsi, kabupaten, hingga desa punya peluang untuk mengindustrialisasi sektor agrikulturnya," katanya.
Anindya juga memberi apresiasi pada strategi Badan Gizi Nasional yang memilih skema kemitraan. Meski anggaran pemerintah besar, menjalankan semuanya sendiri justru kurang efektif. Pendekatan kolaboratif dinilai lebih cerdas.
"Coba pikirkan jika 20 atau 30 ribu dapur itu harus dikelola sendiri oleh pemerintah. Walaupun dananya ada, proses survei, tender, dan sebagainya akan sangat rumit dan lambat. Target bisa meleset. Dengan kemitraan, semua pihak diuntungkan," jelas Anindya.
Jadi, program yang terlihat sederhana ini ternyata punya daya ungkit yang luar biasa. Dari piring anak sekolah, roda ekonomi bisa digerakkan, lapangan kerja tercipta, dan hilirisasi akhirnya menemukan momentumnya.
Artikel Terkait
Iran Buka Akses Penuh Selat Hormuz Selama Gencatan Senjata Lebanon Berlangsung
Kedatangan Patrick Kluivert ke Jakarta Banjir Sambutan, Latihan Barcelona Legends Terganggu
Kemenkes Luncurkan Sistem Pelabelan Nutri-Level untuk Kendalikan Gula, Garam, dan Lemak
Unpad Nonaktifkan Guru Besar Diduga Pelecehan Seksual terhadap Mahasiswi Pertukaran