Kartu merah itulah yang memicu banyak komentar. Insiden itu terjadi saat Fortuna Sittard berhadapan dengan Ajax Amsterdam, Desember lalu. Aksi tekelnya pada Rayane Bounida dianggap keterlaluan oleh banyak pengamat.
Menanggapi hal itu, Hubner tampak sedikit kesal dengan stereotip yang melekat. “Saya juga menghadapi banyak kritik, dari orang-orang yang berpikir saya bisa menjatuhkan siapa saja,” katanya.
Tapi dengan nada percaya diri, ia menambahkan, “Tapi seperti yang Anda lihat, saya juga bisa bermain sepak bola dan bertahan.”
Namun begitu, pemain berusia 22 tahun itu tak menutup mata. Dia mengakui bahwa kadang emosi dan intensitasnya meluap-luap. Itu sesuatu yang harus dikendalikan. “Saya harus lebih menunjukkan itu, dan terkadang tetap sedikit lebih tenang,” ucap Hubner.
Komitmennya jelas. Jika bisa lebih kalem, ia yakin tak ada lawan yang bisa menembus barisan pertahanannya. “Jika saya tetap tenang, tidak ada yang bisa melewati saya,” tutup mantan pemain Cerezo Osaka itu.
Artikel Terkait
Yang Penting Pesannya Bagus: Menguak Bahaya di Balik Nasihat yang Tampak Bijak
Potongan Harga 43% untuk Tiket Whoosh Sambut Libur Isra Miraj 2026
Alpukat: Rahasia Usus Sehat yang Tersembunyi di Balik Rasa Creamy
Ketika Semua Orang Sok Tahu: Mengapa Pakar Tak Lagi Dianggap di Era Digital