Dari Teheran, kabar yang simpang siur terus bergulir. Israel, lewat seorang pejabat seniornya, membuat klaim yang mengguncang: Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, dikabarkan tewas dalam sebuah operasi gabungan dengan Amerika Serikat. Menurut klaim itu, jenazahnya bahkan sudah ditemukan. Kabar ini disampaikan ke Reuters pada Minggu, 1 Maret 2026, menyusul serangan yang terjadi sehari sebelumnya.
Benjamin Netanyahu tak kalah vokal. Dalam sebuah pernyataan video, Perdana Menteri Israel itu menyebut banyak indikasi yang mengarah pada kematian Khamenei. Serangan itu sendiri, kata Netanyahu, menyasar kompleks milik sang pemimpin.
"Pagi ini kami menghancurkan kompleks milik tiran Khamenei. Ada banyak tanda bahwa tiran ini sudah tidak ada lagi," ujarnya tegas.
Meski begitu, dia tak pernah menyebut secara gamblang bahwa Khamenei sudah meninggal. Pernyataannya lebih berputar pada keberhasilan Israel melenyapkan sejumlah pejabat tinggi rezim, mulai dari komandan Garda Revolusi hingga tokoh kunci program nuklir Iran. Netanyahu berjanji operasi akan terus berlanjut, dengan ancaman menyerang ribuan target lain milik apa yang disebutnya "rezim teror". Dia juga secara terbuka mendorong warga Iran untuk turun ke jalan, meminta mereka "menuntaskan pekerjaan".
Namun begitu, dari pihak Iran muncul bantahan keras. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dengan cepat membantah klaim Israel itu. Dia memastikan baik Presiden Masoud Pezeshkian maupun Ayatollah Khamenei selamat dari serangan Sabtu itu.
"Semua pejabat tinggi selamat," kata Araghchi kepada NBC, stasiun televisi AS.
Dia menambahkan, Iran siap memberi pelajaran kepada AS dan Israel. Kehilangan beberapa komandan, menurutnya, bukanlah masalah besar. Pesannya jelas: mereka masih berdiri.
Di sisi lain, ada kabar duka yang justru datang dari internal Iran sendiri. Menurut laporan Reuters yang mengutip sejumlah sumber, Menteri Pertahanan Amir Nasirzadeh dan Komandan Garda Revolusi Mohammad Pakpour dilaporkan tewas dalam serangan yang sama. Kabar ini, bagaimanapun, masih sulit diverifikasi secara independen. Situasinya jadi keruh satu pihak mengklaim kemenangan besar, pihak lain membantah sambil mengakui ada korban di tingkat menengah.
Yang pasti, ketegangan di kawasan itu kini memuncak. Setiap pernyataan, setiap klaim, punya bobotnya sendiri. Dunia menunggu kejelasan di tengah hiruk-pikuk informasi yang saling bertolak belakang.
Artikel Terkait
Ketua Ombudsman RI Ditahan Kejagung Terkait Dugaan Korupsi Tata Kelola Nikel
Kemenkes Imbau Anak Bergejala Campak Tak Sekolah Dulu, Kenali 5 Tandanya
Pemerintah Alokasikan Rp48,7 Triliun untuk 96,8 Juta Penerima BPJS Kesehatan
Harga Pupuk Global Melonjak 86% Didorong Krisis Logistik dan Gas Alam