Hari ke-9 Ramadan, Badan Gizi Nasional (BGN) sudah menutup sementara 47 dapur penyedia Makan Bergizi Gratis. Langkah tegas ini diambil karena menu yang disajikan dinilai nggak layak dan jauh dari standar mutu yang ditetapkan. Intinya, program yang seharusnya memberi manfaat malah berpotensi merugikan.
Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang, bersikap blak-blakan soal hal ini. Baginya, soal pengendalian mutu itu nggak bisa ditawar-tawar lagi.
"Kami tidak menolerir penyimpangan standar pangan dalam program ini," tegas Nanik di Jakarta, akhir pekan lalu.
"Setiap temuan langsung ditindak dengan penghentian operasional sementara untuk evaluasi menyeluruh," tambahnya.
Menurut sejumlah laporan, keputusan penutupan ini bukan asal gebrak. Prosesnya diawali dari verifikasi lapangan dan laporan berjenjang dari tim pengawas di wilayah. Yang dicek pun nggak cuma makanan jadi. Mereka telusuri juga kondisi manajemen dapur, bagaimana rantai distribusinya berjalan, plus prosedur kontrol kualitas di lapangan. Semuanya dicek satu per satu.
Jadi, ini bukan sekadar urusan rasa atau tampilan. Tapi soal sistem yang harus berjalan dengan benar. Di sisi lain, langkah BGN ini jelas bikin banyak pihak tercengang, sekaligus memantik pertanyaan: bagaimana bisa penyimpangan terjadi sedemikian luas?
Artikel Terkait
Polri Salurkan 550 Paket Bansos ke Pengemudi Ojol dalam Rangka HUT Bhayangkara ke-80
Menteri Lingkungan Hidup Canangkan Target Bali 100 Persen Pemilahan Sampah
Kemensos Peragakan Sistem Digitalisasi Bansos Terintegrasi di Depan Komisi VIII DPR
Pelanggan Spa yang Kehilangan Rp1,2 Miliar Bersaksi di Sidang, Tuding Terapis Bobol Rekening