Harga batu bara global yang terus merosot akhirnya memaksa pemerintah mengambil langkah. Intinya, target produksi nasional bakal dipangkas. Kebijakan ini rencananya diwujudkan lewat revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk tahun 2026.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi hal itu dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis lalu. Dia membeberkan data produksi tahun ini yang cukup besar.
"Total produksi batu bara kita di 2025 sebesar 790 juta ton, di mana ekspor kita 65,1 persen dan domestik 32 persen. Untuk DMO, alhamdulillah semua tercapai," ujar Bahlil.
Namun begitu, posisi Indonesia sebagai pemasok terbesar dunia justru jadi bumerang. Dari perdagangan global yang mencapai 1,2-1,3 miliar ton, kontribusi kita sekitar 514 juta ton. Angka itu setara dengan 43 persen. Ya, hampir separuh!
Kondisi itu jelas bikin kacau. Pasokan yang melimpah di pasar internasional akhirnya mengganggu keseimbangan.
"Akibatnya supply and demand itu tidak terjaga, akhirnya harga batu bara turun," kata dia.
Maka, untuk menjaga stabilitas harga dan memikirkan masa depan sumber daya, Kementerian ESDM memutuskan turun tangan. Produksi batu bara akan ditekan drastis, menjadi sekitar 600 juta ton per tahun. Itu hitungan kasar.
Artikel Terkait
David da Silva Siap Tinggalkan Nostalgia, Bawa Malut United Serang Markas Persebaya
Ekonom UI: Defisit APBN 2025 Masih Aman, Bukan Sinyal Krisis
KPK Beberkan Pengembalian Rp 100 Miliar Terkait Kasus Kuota Haji
Kemnaker Tegaskan: Kabar Cairnya BSU 2026 Masih Hoaks, Waspada Penipuan!