Namun begitu, ada satu momen yang paling saya soroti tentang Raga. Bagaimana caranya ia bertahan menghadapi cercaan dan hinaan dari orang-orang terdekat Ami, bahkan termasuk orang tuanya sendiri? Itu pertanyaan yang mengusik.
Serangan personal, seperti yang dialami Raga, bukan cuma soal luka psikis. Dampaknya bisa beruntun. Bisa bikin minat seseorang pada sesuatu jadi pudar, atau kemampuannya bersosialisasi menyusut drastis. Novel ini memberikan gambaran pedih terutama bagi para lelaki betapa mengerikannya prasangka dan fitnah yang terucap begitu saja.
Dengan mengangkat isu tekanan sosial, 23:59 mengajarkan pada kita betapa celakanya menghakimi orang lain tanpa tahu duduk perkaranya. Ironisnya, novel yang sama juga menyindir kita agar tidak mudah menyimpulkan sesuatu hanya dari omongan orang.
Saya jadi ingat, dan ingin mengingatkan para pembaca di sini, bahwa toxic relationship itu nyata. Benar-benar ada. Kemungkinan terburuknya? Ketika itu justru datang dari orang yang paling kita cintai. Melalui karyanya, Brian Khrisna menggambarkan sosok laki-laki sebagai korban ketidakadilan dalam sebuah hubungan. Sebuah hubungan yang pada akhirnya memaksa mereka untuk bungkam, untuk tidak bercerita.
Ini bukan sekadar karya fiksi. Bagi saya, ini adalah kisah nyata.
Terima kasih.
Artikel Terkait
Sekutu Trump Ancam Bunuh Khamenei di Tengah Gelombang Demo Iran
Suzuki Pastikan Suku Cadang Baleno Tetap Tersedia Meski Sudah Pensiun
Raja Ampat Pasang Tarif Masuk Baru: Rp 1 Juta untuk Turis Asing
Layanan Kesehatan di Wilayah Banjir Sumatera Mulai Bangkit, 87 RS Kembali Beroperasi