Trump Ancam Kolombia dan Kuba Usai Venezuela Berhasil Ditaklukkan

- Minggu, 04 Januari 2026 | 11:40 WIB
Trump Ancam Kolombia dan Kuba Usai Venezuela Berhasil Ditaklukkan

WASHINGTON Setelah aksi militer besar-besaran di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores di Karakas, ancaman Presiden AS Donald Trump kini beralih ke tetangganya. Kolombia disebut-sebut sebagai target berikutnya.

Trump dengan tegas menuduh Presiden Kolombia Gustavo Petro terlibat dalam bisnis narkoba. "Dia punya pabrik kokain yang diselundupkan ke sini, ke Amerika," ujarnya. "Jadi, dia harus berhati-hati."

Peringatan keras itu disampaikan Trump pada Minggu (4/1/2026).

Namun begitu, Kolombia bukan satu-satunya negara yang masuk dalam sorotan. Kuba juga mendapat peringatan serupa dari pemimpin Gedung Putih itu. Trump menyebut pulau tersebut sebagai "negara gagal" yang kepemimpinannya telah menciptakan kehancuran ekonomi berkepanjangan. "Rakyat di sana sudah menderita puluhan tahun," katanya. Menurutnya, Kuba akan menjadi topik pembicaraan serius di waktu mendatang.

Trump juga menyelipkan nada yang sedikit berbeda saat membicarakan Kuba. "Kami ingin membantu warga Kuba yang masih di sana, tentu saja. Tapi kami juga punya perhatian besar untuk mereka yang terpaksa mengungsi dan memilih menetap di Amerika," jelasnya.

Pandangan keras terhadap Havana itu mendapat dukungan dari Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.

"Situasi di Kuba adalah sebuah bencana," tegas Rubio, yang sendiri merupakan keturunan Kuba.

Dia tak segan menyebut para penguasa di Havana sebagai orang-orang yang tidak kompeten dan pikun. "Atau dalam beberapa kasus, bukan pikun, tapi benar-benar tidak becus," tambahnya.

Komunitas Kuba-Amerika, yang banyak menetap di Florida, memang kerap menjadi penentang rezim komunis yang berkuasa. Mereka menjadi salah satu basis dukungan penting bagi kebijakan keras Washington terhadap Havana. Ancaman-ancaman terbaru ini, tampaknya, tak lepas dari dinamika politik dalam negeri AS sendiri.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar