Kedua negara itu adalah raksasa produsen semikonduktor global. Tak heran jika mereka mendapat manfaat besar dari ledakan permintaan chip untuk teknologi AI.
Secara umum, aktivitas pabrik di Asia tetap tumbuh. Meski Indonesia dan Vietnam melaporkan ekspansi yang sedikit melambat, pertumbuhannya tetap ada. India, meski melambat ke laju terlemah dalam dua tahun, tetap mempertahankan posisinya sebagai yang terkuat di kawasan. Hasil ini sejalan dengan data PMI China yang dirilis Selasa lalu, yang menunjukkan pembalikan arah yang mengejutkan didorong lonjakan pesanan liburan.
Menurut sejumlah analis, lonjakan ekspor di beberapa bulan terakhir memberi alasan untuk optimis. Meski belum bisa disimpulkan apakah eksportir Asia sudah sepenuhnya kebal dari tarif AS, setidaknya permintaan global yang membaik memberi harapan untuk awal tahun baru.
"Ekspor dari sebagian besar negara melonjak akhir-akhir ini. Kami menilai prospek jangka pendek untuk sektor manufaktur Asia yang berorientasi ekspor tetap kondusif," kata Shivaan Tandon, Ekonom Asia di Capital Economics.
Berita bagus juga datang dari Singapura. Negeri Kota itu melaporkan pertumbuhan ekonomi 2025 mencapai 4,8%, meningkat dari 4,4% di tahun sebelumnya. Pertumbuhan kuartalannya pun melampaui perkiraan banyak pihak.
Kini, semua mata tertuju pada Jepang. S&P Global dijadwalkan merilis data PMI-nya pada Senin pekan depan, yang akan melengkapi gambaran akhir tahun dari kawasan Asia.
Artikel Terkait
Leao Bawa Milan Kembali ke Puncak, Pesta Sementara di San Siro?
DENZA D9: Saat Kemewahan Tak Lagi Berisik
Waspada Hujan dan Petir, Cuaca Jabodetabek Akan Gelap Sejak Pagi
Guncangan Rantai Pasok: Banjir Sumatera Tahan Triliunan Nilai Tambah Industri