MURIANETWORK.COM - Dalam wacana publik, Nahdlatul Ulama (NU) kerap disebut sebagai benteng moderasi beragama di Indonesia. Namun, dalam praktiknya di tingkat akar rumput, penerapan prinsip-prinsip moderasi seperti tasamuh (toleransi) dan tawassuth (sikap tengah) sering kali menemui tantangan nyata. Kesenjangan antara doktrin ideal dan realitas sosial ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang bagaimana moderasi yang menjadi identitas organisasi ini benar-benar dihidupi oleh warganya sehari-hari.
Jurang Antara Teori dan Praktik di Lapangan
Secara teologis, NU berdiri di atas fondasi Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyah yang mengusung prinsip tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i'tidal (adil), dan tasamuh (toleran). Prinsip-prinsip luhur ini menjadi landasan identitas organisasi. Sayangnya, di tengah kompleksitas kehidupan masyarakat, prinsip-prinsip tersebut tak jarang hanya menjadi jargon. Terjadi jarak yang cukup signifikan antara narasi resmi yang disampaikan di tingkat elit dengan dinamika yang terjadi di komunitas basis.
Kerapuhan moderasi di tingkat akar rumput ini, misalnya, terlihat dari beberapa insiden di mana kegiatan keagamaan kelompok lain dibubarkan oleh elemen masyarakat yang mengatasnamakan NU. Tindakan semacam itu mengisyaratkan bahwa pemahaman tentang moderasi belum sepenuhnya meresap menjadi budaya.
Narasi Pembenaran dan Penyempitan Pandangan
Dalam beberapa kasus, tindakan pembubaran seringkali dibungkus dengan narasi-narasi besar seperti "menjaga NKRI" atau "anti-aliran tertentu". Padahal, bila dicermati, banyak dari perbedaan yang dipersoalkan sebenarnya bersifat furu'iyah, terkait cabang-cabang hukum fikih, bukan pada pokok akidah yang fundamental.
Ironisnya, tindakan intoleran justru datang dari pihak yang mengklaim diri sebagai kelompok moderat. Situasi ini menunjukkan adanya monopoli kebenaran dan ketidaksiapan untuk hidup dalam perbedaan. Ketika perbedaan langsung dianggap sebagai kesalahan dan direspons dengan cara-cara yang koersif, maka esensi tasamuh atau toleransi itu sendiri telah hilang.
Akar Masalah: Pendidikan yang Monokultur
Lantas, mengapa fenomena ini bisa terjadi? Salah satu akar persoalannya terletak pada sistem pendidikan keagamaan di banyak pesantren tradisional yang masih cenderung monokultur. Meskipun secara resmi NU mengakui empat mazhab fikih, dalam praktik pembelajaran, penekanan sering kali hanya pada satu mazhab tertentu, yakni Syafiiyah.
Akibatnya, para santri jarang mendapatkan paparan mendalam tentang perbandingan mazhab (fiqh muqaran) atau studi tentang keragaman aliran pemikiran dalam Islam. Mereka tumbuh dengan pemahaman bahwa Islam adalah apa yang mereka pelajari dari kitab-kitab kurikulum standar pesantrennya saja. Wawasan yang sempit ini rentan melahirkan fanatisme buta.
Artikel Terkait
Hujan dan Angin Kencang di Bandung Tewaskan Satu Orang, 33 Pohon Tumbang
Tiga Dapur Makanan Bergizi Gratis di Kaimana Ditutup Sementara Gara-gara IPAL Tak Standar
Sistem Kesehatan Lebanon Selatan Kolaps di Tengah Serangan Israel
Sari Roti Ekspansi ke Industri Pakan Ternak, Manfaatkan Roti Sisa Produksi