Prabowo Bela Menteri Turun ke Lokasi Bencana: Datang Bukan Cuma untuk Melihat

- Kamis, 01 Januari 2026 | 16:15 WIB
Prabowo Bela Menteri Turun ke Lokasi Bencana: Datang Bukan Cuma untuk Melihat

Presiden Prabowo Subianto mengaku heran. Heran dengan kritikan yang dialamatkan kepada para menteri Kabinet Merah Putih yang turun langsung ke lokasi bencana di Sumatera. Bagi Prabowo, kehadiran mereka di lapangan punya tujuan yang jelas: memastikan masalah dan kebutuhan korban bisa ditangani dengan cepat. Bukan sekadar untuk melihat-lihat.

Dalam sambutannya di rapat koordinasi pembangunan hunian Danantara, Aceh Tamiang, Kamis lalu, Prabowo mengungkapkan ia kerap memantau berbagai komentar. Menurutnya, ada kecenderungan yang kurang sehat dari beberapa pihak.

“Kadang-kadang saya monitor ada suatu kecenderungan yang menurut saya kurang sehat dari beberapa pribadi dan komentator yang selalu melihat kegiatan bangsa Indonesia, kegiatan pemerintah dari sudut negatif,” ujarnya.

Ia lantas memberi contoh. Kritik yang mempertanyakan manfaat kehadiran seorang menteri di daerah yang sedang dilanda musibah. Prabowo merasa pandangan seperti itu gagal menangkap esensi dari kepemimpinan di lapangan.

“Kalau ada, saya pernah denger ada kritik gini, untuk apa menteri ke tempat bencana, hanya datang melihat. Saudara-saudara serba susah, menteri tidak datang dibilang tidak peduli. Menteri datang ya masak menteri ikut macul? Kan itu,” tambahnya dengan nada bertanya.

Prabowo menegaskan, inti dari turun ke lokasi adalah identifikasi masalah secara langsung. Dengan begitu, proses penanganan bisa berjalan lebih lancar dan cepat. “Saya datang bertemu gubernur, gubernur sampaikan kita butuh ini itu, ada usul ini, saya tahu. Langsung kita cek, ya jadi ini ya mudah-mudahan saya percaya dengan bukti,” jelasnya.

Namun begitu, di sisi lain, Prabowo juga punya pesan khusus untuk para pembantunya. Ia meminta mereka untuk tetap tegar. Dunia politik tak pernah sepi dari hujatan, bahkan fitnah. Itu semua, kata dia, jangan sampai mematahkan semangat.

“Saya sampaikan ke saudara-saudara pimpinan, menteri, kepala badan, gubernur, semua, salah satu kewajiban seorang pemimpin siap untuk dihujat, siap untuk difitnah. Tapi kita tak boleh kita terpengaruh dan tak boleh kita patah semangat, semua itu kita terima sebagai koreksi juga, enggak apa-apa, meskipun itu fitnah,” tegas Presiden.

Pesan itu disampaikannya bukan tanpa alasan. Ia ingin para pejabatnya fokus pada pekerjaan, pada bukti nyata di lapangan, sambil tetap membuka telinga meski kadang suara yang datang terdengar keras dan tidak selalu enak didengar.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar