Pagi itu, Jakarta sudah kembali bersih. Padahal, semalam, ribuan orang memadati titik-titik perayaan menyambut 2026. Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta melaporkan, sampah sisa pesta itu mencapai 415 meter kubik, atau sekitar 91,41 ton. Angka ini, kalau dibandingin sama tahun lalu yang tembus 132 ton, jelas jauh lebih rendah.
Pembersihan berlangsung di sejumlah lokasi utama. Mulai dari jantung kota seperti Bundaran HI, sepanjang Sudirman-Thamrin, sampai ke Sarinah dan Monas. Kawasan SCBD, Patung Pemuda Membangun, Lapangan Banteng, dan Istiqlal juga tak luput dari perhatian petugas.
Menurut Asep Kuswanto, si Kepala DLH, proses bersih-bersih udah dimulai sejak malam dan berjalan cepat. Tapi, tantangannya nggak sedikit.
"Ribuan petugas kebersihan kami kerahkan dengan dukungan armada pengangkut sampah agar Jakarta kembali bersih sebelum aktivitas warga dimulai. Menjelang Subuh tuntas semua, Jakarta kembali kinclong,"
ujar Asep dalam keterangannya di hari pertama tahun baru.
Ia bilang, jumlah pedagang kaki lima yang bertambah bikin pekerjaan tambah banyak. Belum lagi hujan ringan yang turun sempat bikin suasana jadi lebih ruwet. Sampah-sampah basah itu nempel di aspal, jadi harus disapu manual pakai pengki. Otomatis, beratnya juga bertambah karena kebanyakan air.
Nah, soal penurunan volume sampah ini, Asep punya beberapa analisis. Pertama, ya karena larangan kembang api. Lalu, cuaca dan konsep perayaan yang tahun ini lebih sederhana dan penuh makna. Dia juga ngucapin terima kasih buat para petugas yang udah kerja keras.
Tak lupa, apresiasi juga ditujukan ke warga Jakarta.
“Kesadaran warga ini sangat membantu dan menjadi kunci terciptanya perayaan yang tertib, nyaman, dan bersih,”
katanya. Partisipasi masyarakat dengan buang sampah pada tempatnya disebutnya punya peran besar.
Memang, nuansa perayaan tahun baru kali ini agak berbeda. Lebih reflektif. Doa bersama digelar sebagai bentuk empati buat saudara-saudara di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh yang kena musibah bencana alam. Menurut Asep, semangat kebersamaan dan kepedulian itu sejalan banget dengan upaya menjaga kebersihan kota. Semua jadi satu paket: ketertiban, nilai kemanusiaan, dan ruang publik yang asri.
Jadi, selain angka sampah yang turun, ada cerita lain yang tersisa: tentang gotong royong yang masih bisa dirasakan di tengah gemerlap kota metropolitan.
Artikel Terkait
Pemangku Zakat dan Wakaf Sepakati 17 Komitmen Perkuat Tata Kelola Nasional
Bapanas Siap Salurkan Bantuan Pangan ke 33,2 Juta Keluarga pada Februari-Maret 2026
TMII Ramai Pengunjung di Libur Imlek, Tawarkan Festival Pecinan dan Pertunjukan Air Mancur
Volkswagen Targetkan Potong Biaya 20% hingga 2028 Hadapi Tekanan Pasar