“Daerah-daerah yang terdampak bencana tentu akan sangat terpukul. Akses jalan terkendala, mobilitas wisatawan menurun, sehingga kontribusinya terhadap okupansi nasional juga berkurang,”
jelas Maulana.
Di sisi lain, cuaca ekstrem yang melanda berbagai wilayah juga jadi tantangan serius. Hal ini membuat banyak calon wisatawan berpikir dua kali untuk melakukan perjalanan jarak jauh. Mereka cenderung lebih berhati-hati, memilih menunda atau bahkan membatalkan rencana liburan.
Dengan segudang tekanan itu, PHRI menilai Nataru tahun ini lebih berfungsi sebagai “penahan bantingan”. Momen ini diharapkan bisa mencegah penurunan yang lebih dalam, ketimbang diandalkan sebagai motor penggerak pertumbuhan.
“Harapannya Nataru bisa menahan agar penurunannya tidak lebih dalam. Tapi untuk mendorong pertumbuhan, itu masih berat,”
tutup Maulana.
Jadi, bagi pelaku industri perhotelan, bersiap-siaplah menghadapi tahun yang berat. Optimisme harus tetap ada, tapi realitas di lapangan memang sedang tidak bersahabat.
Artikel Terkait
Amran Sulaiman Ungkap Doa di Istiqlal dan Proyek Masjid 20 Ribu Jemaah di Makassar
Garena Rilis Kode Redeem Free Fire Terbaru untuk 29 Maret 2026
Arus Balik Pemudik Padati Pelabuhan Ketapang, Antrean Truk Tembus 12 Jam
Pria di Medan Serang Tetangga Pakai Pahat Kayu, Diduga Dipicu Debu Sapu