“Memang kendalanya di lapangan lalu lintas dari pagi sampai sore sangat kuat, sehingga pekerjaan menjadi lebih sulit,” aku Menteri Dody. “Tapi manfaatkan juga waktu malam,” pintanya, menekankan pentingnya memanfaatkan setiap detik.
Saat ini, upaya darurat telah menjangkau sepanjang kurang lebih 30 kilometer. Pembersihan masih berpusat pada lumpur di bahu dan pinggir jalan. Material itu bukan cuma dari alam, tapi juga berasal dari warga yang membuang sisa kotoran dari rumah mereka ke sisi jalan.
Demi mengejar target, puluhan unit alat berat dan truk telah dikerahkan. Di Aceh Tamiang saja ada 22 unit alat berat dan 10 dump truck. Tapi rupanya, itu belum cukup. Terutama di kawasan Kota Kuala Simpang, meski sudah ada 21 unit, masih dibutuhkan tambahan.
“Di kota ini alat berat masih kurang, jadi akan kita tambahkan lagi,” tutur Menteri Dody.
“Saya sudah meminta Kepala Balai Jalan dan Kepala Balai Sumber Daya Air di Medan untuk mencari penyedia jasa alat berat yang bisa kita sewa.”
Jadi, kerja maraton itu terus berlangsung. Semua berharap dalam hitungan hari, jalan-jalan itu kembali hidup dan menghubungkan kembali kehidupan warga Aceh yang terdampak.
Artikel Terkait
Eredivisie Tolak Permintaan Ulang Laga Terkait Status Dua Pemain Timnas Indonesia
Gubernur DKI Pramono Anung Pastikan Perjuangkan Nasib PPPK
Macet Parah Landa Tanjung Bunga Imbas Pensi Smansa 2026 yang Dihadiri Ribuan Penonton
PSSI: Masalah Paspor Dean James Sedang Ditangani di Belanda