Menteri Bahlil Buka Suara: 50 Desa di Sumut Gelap Gulita Bukan karena Padam, Tapi Belum Pernah Terlistriki

- Selasa, 16 Desember 2025 | 10:15 WIB
Menteri Bahlil Buka Suara: 50 Desa di Sumut Gelap Gulita Bukan karena Padam, Tapi Belum Pernah Terlistriki

Malam itu di Istana Negara, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan soal pasokan listrik di Sumatera yang belum sepenuhnya normal pascabencana. Ternyata, masalahnya tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang. Bukan cuma banjir yang jadi penghalang.

Menurut Bahlil, ada kendala yang lebih mendasar. Jaringan listrik di sejumlah daerah ternyata memang belum ada sejak awal. Ia ambil contoh Sumatera Utara. Pemulihan di sana secara umum sudah hampir tuntas, mencapai 99,9 persen. Namun, masih ada sekitar 50 desa di empat kabupaten yang gelap gulita. Bukan karena listriknya padam, tapi karena memang belum pernah teraliri sama sekali.

"Ternyata itu bukan karena persoalan banjir saja," katanya usai menghadap Presiden Prabowo Subianto, Senin (15/12/2025) malam.

"Tapi memang jaringan listrik kita yang belum ada di sana."

Persoalan ini sebenarnya cermin dari masalah yang lebih luas. Secara nasional, Bahlil mengungkap angka yang cukup mencengangkan. Masih ada sekitar 5.700 desa dan 4.400 dusun yang belum merasakan terangnya listrik. Ini jadi pekerjaan rumah yang besar buat pemerintah ke depan. Pemerataan energi jelas bukan hal yang bisa ditunda-tunda.

"Kami menyarankan agar bisa kita lakukan program sampai dengan 2029 agar semua desa di Indonesia ini bisa dilistriki," ujarnya.

"Sekaligus menunjang program tentang sekolah-sekolah yang berbasis teknologi."

Lalu, bagaimana dengan wilayah bencana seperti Aceh? Di Banda Aceh, kapasitas pembangkit listriknya sekitar 110 megawatt. Saat ini, rata-rata 60 MW sudah bisa disalurkan untuk kebutuhan dasar masyarakat. Sebagian masih mengandalkan genset, tapi setidaknya sudah ada progres.

"Alhamdulillah tadi malam sudah rata-rata 60 MW untuk kebutuhan Banda Aceh sudah tersalur," jelas Bahlil.

Di sisi lain, perbaikan infrastruktur krusial seperti gardu induk juga terus digenjot. Pemasangannya sudah mencapai 80-90 persen. Kalau lancar, target penyelesaiannya paling lambat Rabu atau Kamis minggu ini.

"Kalau ini jadi, maka aliran listrik dari Arun, Bireun, itu baru bisa masuk secara normal dan transmisi untuk jalur Sumatera itu sudah bisa connect," katanya.

Namun begitu, jangan bayangkan begitu gardu induk berfungsi, semua desa langsung terang benderang. Bahlil menegaskan, kondisi di lapangan masih sangat sulit. Infrastruktur tegangan rendah di banyak desa hancur total tiang-tiang tumbang, jalan akses terputus. Bahkan, banjir masih menggenangi beberapa lokasi.

Memaksakan penyaluran listrik dalam kondisi seperti itu, menurutnya, justru berbahaya. Bisa memicu kecelakaan yang tidak diinginkan.

"Karena sebagian desa yang infrastrukturnya masih parah, jalan yang enggak bisa kita masuk, itu pada tegangan rendah tiang-tiangnya jatuh," papar Bahlil.

"Dan ada sebagian desa yang memang masih banjir, masih ada air. Kalau ini kita paksakan untuk dialiri listrik, itu akan berdampak pada kecelakaan di masyarakat."

Jadi, pemulihan total butuh waktu. Tidak hanya sekadar menyalakan saklar, tetapi juga membangun dari nol di tempat-tempat yang memang belum terjamah, sekaligus memperbaiki kerusakan parah yang ditinggalkan bencana.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar