Dua pesawat angkut Polri membawa 3,8 ton logistik penting. Isinya beragam, dari makanan siap saji, obat-obatan, sampai genset dan perangkat WiFi portabel. Idenya jelas: di tengah chaos, komunikasi harus tetap hidup. Selain itu, Polri juga mendapat mandat untuk memperbaiki jalan dan menjaga stabilitas. Ini penting untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, seperti penjarahan atau kerusuhan, di saat masyarakat sedang paling rentan.
Lalu, di balik layar, peran BIN punya warna tersendiri. Melalui jaringan intelijennya di tiga provinsi terdampak, mereka melakukan pemantauan ketat. Kerjanya meliputi monitoring ancaman, pemetaan risiko lanjutan, hingga pengawalan distribusi bantuan agar tepat sasaran. Semua data dan analisis strategis mereka kirim ke pemerintah pusat sebagai bahan pertimbangan.
Tak cuma itu, BIN juga aktif memberikan peringatan dini. Baik untuk potensi bencana susulan maupun kerawanan sosial yang mungkin timbul. Dengan begitu, setiap keputusan taktis dan kebijakan nasional bisa lahir dari informasi intelijen yang akurat, bukan sekadar asumsi.
Menurut Djamari, kolaborasi ketiga pilar ini dirancang bukan untuk jangka pendek semata. “Ini juga untuk pemulihan jangka menengah hingga stabilisasi pascabencana,” ujarnya.
“Soliditas ini adalah wajah negara di saat rakyat sedang dalam kondisi paling rentan,” pungkasnya. “Kami memastikan bahwa bantuan tidak hanya cepat sampai, tetapi juga tepat sasaran, aman, dan berkelanjutan.”
Artikel Terkait
MNC Lido City Gelar Aksi Bersih-Bersih Masjid Sambut Ramadhan
Cak Imin Ingatkan: Tanpa JKN, Satu Penyakit Bisa Jatuhkan Keluarga ke Jurang Miskin
Di Balik Gemuruh Festival, Budaya Kritik Film di Jogja Sekarat
IIMS 2026 Siap Jadi Ajang Debut Global dan Serbuan Mobil Terbaru