FIFA Dihujani Kritik Usai Anugerahkan Penghargaan Perdamaian kepada Donald Trump

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 12:50 WIB
FIFA Dihujani Kritik Usai Anugerahkan Penghargaan Perdamaian kepada Donald Trump

WASHINGTON FIFA, badan sepak bola dunia, kembali jadi bulan-bulanan. Kali ini, gara-gara Presidennya, Gianni Infantino, memberikan Hadiah Perdamaian FIFA kepada Donald Trump. Penghargaan yang mestinya mulia ini malah memicu badai kritik dari berbagai penjuru dunia. Banyak yang menilai langkah ini tak sensitif, apalagi dikaitkan dengan sikap FIFA yang dianggap tutup mata terhadap situasi di Gaza.

Acara pemberian penghargaan berlangsung Jumat lalu. Ironisnya, hanya sehari sebelumnya, pemerintahan Trump disebut melancarkan serangan udara di Laut Karibia. Timing-nya pun dinilai sangat janggal. Bagi banyak pengamat, ini bukan sekadar salah waktu, tapi sinyal politik yang jelas dari FIFA.

Parahnya, FIFA selama ini terkenal keras melarang pesan politik di lapangan. Pemain yang protes sering kena denda atau larangan. Tapi lihat sekarang, mereka justru memberi penghargaan perdamaian pada figur politik yang super kontroversial. Standar ganda? Rasanya iya. Keputusan Infantino ini seolah menegaskan kedekatan pribadinya dengan Trump dan membuat prinsip netralitas FIFA jadi bahan tertawaan.

Kritik pun mengalir deras, terutama terkait sikap FIFA soal Gaza.

Craig Mokhiber, mantan pejabat PBB yang vokal soal HAM, tak menyembunyikan kegeramannya. Dia sudah lama mendesak FIFA mengeluarkan Israel dari kompetisi internasional menyusul perang di Gaza, yang dia sebut sebagai genosida.

“Ini perkembangan yang benar-benar memalukan,” ujar Mokhiber.
“Tidak puas dengan dua tahun keterlibatan FIFA dalam genosida di Palestina, Infantino dan kroni-kroninya kini membuat ‘hadiah perdamaian’ baru untuk menjilat Donald Trump,” tambahnya kepada Al Jazeera, Sabtu (6/12).

Menurut Mokhiber, penghargaan ini cuma kamuflase. Upaya untuk menutupi dukungan Trump pada Israel, serangan di Karibia, plus pelanggaran HAM dalam negeri AS. Kritik pada Infantino makin menjadi karena dia selalu beralasan sepak bola “tak bisa menyelesaikan masalah geopolitik” saat diminta bertindak untuk Gaza.

Di tengah kecaman itu, Infantino malah memuji-muji Trump. Dia menyebut Perjanjian Abraham yang dinormalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab sebagai prestasi. Bagi yang memperhatikan konflik Palestina, pujian ini terasa mengabaikan realitas di tanah yang sedang berdarah.

“Inilah yang kami inginkan dari seorang pemimpin… Bapak Presiden, Anda benar-benar pantas,” kata Infantino saat menyerahkan penghargaan.

Pernyataan itu bikin banyak pihak naik pitam. FIFA dianggap sedang melegitimasi tindakan yang menyakiti rakyat Palestina.

Lalu bagaimana dengan Trump sendiri? Dia jelas senang. Bahkan menyebut ini salah satu penghargaan terbesar dalam hidupnya. Mantan presiden AS itu kembali mengklaim telah menyelamatkan jutaan nyawa dan mengakhiri banyak perang selama masa jabatannya. Tentu saja, klaim itu diabaikan banyak orang karena tidak menjawab inti kritik terhadap FIFA.

Kini, FIFA ada di persimpangan. Pemberian hadiah kepada Trump di saat dunia menuntut perhatian pada Gaza justru memperburuk citra mereka. Bukan terlihat netral, federasi ini malah dianggap semakin berpihak. Sorotan pada kemanusiaan di Gaza kian tajam, dan langkah Infantino ini seperti memperlebar jurang antara FIFA dengan publik global yang haus akan keadilan.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: mau dibawa ke mana sepak bola kita? FIFA seharusnya menjadi rumah bagi semua, bukan panggung bagi kepentingan segelintir orang.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar