Di tengah kecaman itu, Infantino malah memuji-muji Trump. Dia menyebut Perjanjian Abraham yang dinormalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab sebagai prestasi. Bagi yang memperhatikan konflik Palestina, pujian ini terasa mengabaikan realitas di tanah yang sedang berdarah.
Pernyataan itu bikin banyak pihak naik pitam. FIFA dianggap sedang melegitimasi tindakan yang menyakiti rakyat Palestina.
Lalu bagaimana dengan Trump sendiri? Dia jelas senang. Bahkan menyebut ini salah satu penghargaan terbesar dalam hidupnya. Mantan presiden AS itu kembali mengklaim telah menyelamatkan jutaan nyawa dan mengakhiri banyak perang selama masa jabatannya. Tentu saja, klaim itu diabaikan banyak orang karena tidak menjawab inti kritik terhadap FIFA.
Kini, FIFA ada di persimpangan. Pemberian hadiah kepada Trump di saat dunia menuntut perhatian pada Gaza justru memperburuk citra mereka. Bukan terlihat netral, federasi ini malah dianggap semakin berpihak. Sorotan pada kemanusiaan di Gaza kian tajam, dan langkah Infantino ini seperti memperlebar jurang antara FIFA dengan publik global yang haus akan keadilan.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: mau dibawa ke mana sepak bola kita? FIFA seharusnya menjadi rumah bagi semua, bukan panggung bagi kepentingan segelintir orang.
Artikel Terkait
Pengacara Roy Suryo Kritik SP3 Kasus Fitnah Ijazah Jokowi: Dasar Hukum Dinilai Tak Jelas
Kendaraan Listrik: Momentum yang Harus Dijaga Agar APBN Tak Tercekik Subsidi
Musik yang Tepat Bisa Jadi Teman Lari Terbaik, Begini Rekomendasinya
Dari Dapur Keluarga ke Pasar Digital: Kisah NM Kitchen Bertahan dan Bangkit