Dukungan logistiknya juga masif. Enam truk besar telah meluncur membawa sembako, air mineral, sampai pakaian dan selimut. Untuk Aceh saja, ada tambahan sekitar 10 ton bantuan. Sementara ke Sumatera Barat, kiriman termasuk ratusan kardus mi instan, beras, minyak goreng, bahkan barang-barang khusus seperti pembalut wanita.
Yang menarik, perhatian juga diberikan pada aspek psikologis. Tidak kurang dari 42 psikolog dan tenaga trauma healing diterjunkan. Dapur lapangan pun bekerja tanpa henti, menyiapkan ribuan porsi makanan setiap harinya bagi para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal.
Infrastruktur penanganan bencana diperkuat dengan alat berat. Bulldozer dikerahkan, disertai water tank, toilet portabel, hingga kontainer pendingin jenazah. Bahkan, perangkat Starlink dipasang untuk menjaga koneksi komunikasi tetap hidup di lokasi yang infrastrukturnya rusak parah.
Rangkaian aksi ini disebut-sebut sebagai operasi kemanusiaan terbesar Polda Riau sepanjang tahun. Lebih dari sekadar bantuan materi, ini adalah pesan solidaritas.
Seperti disampaikan Ino di akhir penjelasannya, "Bencana bukan hanya tentang apa yang hilang hari ini, tetapi tentang bagaimana kita saling menopang untuk bangkit kembali."
Narasi itu yang coba diwujudkan dalam aksi nyata di tengah lumpur dan duka di Sumatera.
Artikel Terkait
Jasindo Gelar Layanan Kesehatan dan Santunan untuk Jemaah Istiqlal di Ramadan
Lalu Lintas Selat Hormuz Anjlok Drastis Imbas Konflik Iran-AS
Bank Dunia: Ukraina Butuh Dana Rp9.900 Triliun untuk Rekonstruksi Pascaperang
Melly Goeslaw Kirim Doa untuk Vidi Aldiano, Almarhum Berpulang Setelah Lama Lawan Kanker