Pabrik PT Menarini Indria Laboratories (Milab) di Cikarang baru saja diperluas. Ini bukan sekadar perluasan biasa, tapi langkah strategis untuk mendongkrak kapasitas produksi mereka. Menarini Asia-Pasifik, yang membawahi fasilitas ini, jelas sedang menancapkan kakinya lebih dalam di Indonesia.
Acara peresmiannya kemarin ramai dihadiri pejabat. Tampak hadir Saribua Siahaan dari BKPM dan Dita Novianti Sugandi Argadiredja, Direktur Produksi dan Distribusi Farmasi Kemenkes. Kehadiran mereka menunjukkan betapa seriusnya pemerintah memandang investasi semacam ini.
Menurut sejumlah saksi, perluasan ini bukan cuma soal bangunan yang lebih besar. Ini menegaskan posisi Indonesia dalam peta rantai pasok farmasi Asia Pasifik. Dengan fasilitas baru, Milab kini punya kemampuan lebih buat melayani permintaan ekspor yang terus naik.
Jangkauan ekspornya sendiri sudah meluas sampai ke 12 negara. Yang terbaru? Tiongkok. Nah, salah satu produk andalan yang dikirim ke sana adalah Dermatix, gel untuk merawat bekas luka. Untuk produk ini saja, proyeksi volumenya sampai akhir 2025 bisa menyentuh 700.000 unit. Angka yang cukup signifikan.
Kalau kita lihat trennya, dari 2023 hingga 2025 ini, total volume ekspor Dermatix dan produk Menarini lainnya diproyeksikan melonjak lebih dari dua kali lipat. Kira-kira, akumulasinya bakal mencapai 2,8 juta unit di tahun ini. Pertumbuhan yang pesat.
Presiden Direktur Menarini Indonesia, Idham Hamzah, menegaskan komitmen perusahaan.
"Sebagai perusahaan farmasi asal Italia dengan kehadiran yang kuat di kawasan, kami berkomitmen mendukung pertumbuhan ekspor lokal," ujarnya, Kamis lalu. "Ini sekaligus untuk memperkuat peran Indonesia sebagai pusat manufaktur regional dan membangun reputasi kami di tingkat global."
Di sisi lain, pemerintah melalui Kemenkes punya apresiasi tersendiri. Dita Novianti menyebut kolaborasi seperti ini krusial.
"Pembangunan fasilitas MiLab adalah contoh konkret bagaimana kerja sama pemerintah dan swasta bisa menempatkan Indonesia sebagai pemain yang kompetitif," ungkap Dita. "Baik dalam rantai pasok kesehatan regional maupun global."
Perluasan ini juga diiringi komitmen terhadap standar global dan keberlanjutan. Milab sendiri sudah menyabet sejumlah sertifikasi bergengsi, seperti ISO 14001 dan ISO 50001. Mereka bahkan dapat penghargaan Gold Flag untuk sistem manajemen K3-nya. Cukup impressive.
Sebagai gambaran, Menarini Group sendiri adalah raksasa biofarmasi asal Italia yang usianya sudah 140 tahun. Di kawasan Asia-Pasifik, mereka melayani 13 pasar kesehatan utama. Sementara Milab, yang berdiri sejak 2011, adalah hasil joint venture dengan PT Indria.
Bertempat di Cikarang, Jawa Barat, pabrik ini memproduksi berbagai bentuk sediaan farmasi. Mulai dari padat, semi-padat, cair, sampai alat kesehatan. Dengan perluasan ini, operasi mereka dipastikan akan makin luas dan efisien.
Semuanya mengarah pada satu hal: Indonesia kian diperhitungkan dalam peta industri farmasi dunia. Dan Menarini, lewat Milab, tampaknya sedang memainkan peran yang cukup sentral.
Artikel Terkait
Target 100 GW PLTS Dinilai Ambisius, Butuh Solusi Penyimpanan dan Lahan
Mensos Tegaskan BPS Satu-satunya Penentu Desil Penerima Bansos
BNI Tegaskan Komitmen Kembalikan Dana Rp28 Miliar Nasabah Credit Union Aek Nabara
KPK Geledah Tujuh Lokasi, Temukan Surat Pengunduran Diri sebagai Alat Tekan Bupati Tulungagung