Pendapatan minyak dan gas Rusia benar-benar terpuruk bulan lalu. Data terbaru menunjukkan, pada November 2025, pemasukan dari sektor migas anjlok drastis hingga 40,2 persen jika dibandingkan dengan bulan Oktober. Angkanya hanya menyentuh 530,9 miliar rubel, atau kalau dirupiahkan sekitar Rp114 triliun. Cukup jauh, ya.
Kalau dibandingin dengan kondisi setahun lalu, penurunannya juga signifikan, mencapai 33,8 persen. Artinya, trennya memang sedang tidak bagus-bagus amat. Secara kumulatif, dari Januari sampai November kemarin, total pendapatan mereka cuma 8,029 triliun rubel. Itu berarti turun 21,4 persen dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya.
Lalu, apa penyebabnya? Tekanan dari Barat tampaknya kian menjadi. Baru-baru ini, Amerika Serikat kembali mengencangkan sanksi dengan menjatuhkan hukuman pada dua raksasa energi Rusia: Rosneft dan Lukoil. Langkah ini jelas bukan main-main.
Tak cuma itu, Washington juga terus mendesak negara-negara lain untuk menghentikan impor minyak Rusia. Bahkan, ancaman tarif tinggi bagi importir yang bandel sudah disiapkan. Tekanan dari berbagai sisi ini jelas berdampak pada angka-angka tadi.
Di tengah situasi sulit ini, Presiden Vladimir Putin justru melakukan kunjungan ke India. Bukan tanpa alasan, India selama ini dikenal sebagai salah satu pembeli utama minyak Rusia. Kunjungan pekan ini tentu menarik untuk diamati, apakah bisa meredam dampak sanksi yang kian ketat.
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan Aturan Batasi Akses Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Kemenhaj Siapkan Dua Skenario Haji 2026 Antisipasi Konflik Timur Tengah
Stellantis Terbitkan Obligasi Hybrid Rp97,9 Triliun untuk Kuatkan Likuiditas
Persiapan Mudik Lebaran 2026 Dimulai, Keamanan dan Kenyamanan Jadi Prioritas