Bibit siklon itu sendiri diperkirakan akan mempengaruhi wilayah yang cukup luas. Mulai dari Bengkulu dan Lampung, merambah ke Banten dan Jakarta, lalu menyusuri Jawa hingga Bali, NTB, NTT, lalu ke Maluku, serta Papua bagian Selatan dan Tengah.
Memang, Indonesia bukanlah jalur utama siklon. Namun begitu, anomali cuaca bisa mengubah segalanya. Kita masih ingat bagaimana Siklon Senyar beberapa waktu lalu menyebabkan kerusakan parah dan hujan ekstrem dengan intensitas luar biasa, lebih dari 380 mm hanya dalam satu hari, di Aceh.
Fase kritis diperkirakan terjadi pada periode 28 Desember hingga 10 Januari. Pada rentang waktu itu, hampir seluruh Pulau Jawa, Bali, NTT, NTB, ditambah sebagian Sulawesi Selatan dan Papua Selatan berisiko mengalami hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi. Angkanya bisa mencapai 300 hingga 500 milimeter per bulannya.
Selain ancaman dari langit, ada juga bahaya dari laut yang perlu diwaspadai. Fathani juga mengingatkan potensi banjir rob di sejumlah pesisir, seperti Jakarta, Banten, dan Pantura Jawa Barat. Puncaknya diperkirakan terjadi pertengahan Desember nanti, bertepatan dengan fase perigee dan bulan purnama yang meningkatkan pasang air laut.
Artikel Terkait
Yayasan Gates Siapkan Rp150 Triliun, Tapi PHK 500 Karyawan Mengintai
Cipratan Air Banjir Picu Amuk, Warga Koja Berakhir dengan Luka di Wajah
Ekonomi Jerman Akhirnya Tumbuh Tipis, Tapi Beban Ekspor Masih Membelit
Ekspor Mobil Ramah Lingkungan Korsel Tembus Rp1.200 Triliun di Tengah Pergeseran Pasar