Di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Senin lalu, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengungkap temuan yang cukup mengejutkan. Berdasarkan analisis citra satelit, setidaknya ada delapan perusahaan yang beroperasi di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru, Tapanuli Selatan. Aktivitas mereka beragam, mulai dari perkebunan tanaman industri, pertambangan emas, hingga perluasan lahan sawit.
Faisol dengan tegas menyebut kedelapan entitas itu turut memperparah banjir yang baru saja melanda wilayah tersebut.
"Saya mencatat ada 8 entitas di sana," ujarnya.
"Mulai dari perusahaan tanaman industri, kemudian perusahaan tambang emas, kemudian perkembangan sawit."
Menurutnya, data satelit menunjukkan dengan jelas bagaimana aktivitas mereka berkontribusi pada tragedi itu. Banjir yang terjadi bukan sekadar musibah alam biasa, tapi punya latar yang kompleks. Bencana itu, seperti kita tahu, telah merenggut banyak korban jiwa.
Namun begitu, Faisol tak serta merta mengambil langkah gegabah. Pihaknya masih melakukan kajian mendalam untuk mengukur kerusakan yang timbul. Langkah hukum, meski diperlukan, harus tepat sasaran dan terukur.
"Saya sudah minta Deputi Gakkum untuk melakukan langkah-langkah cepat dan terukur," kata Faisol.
Pesan utamanya jelas: harus ada pertanggungjawaban. Di balik bencana yang memilukan ini, ada pihak-pihak yang aktivitasnya diduga kuat memperburuk situasi.
"Ini kan memang harus ada yang tanggung jawab berkait dengan bencana ini," tegasnya.
Nada suaranya terdengar serius. Ia sepertinya tak ingin kasus ini berlalu begitu saja tanpa keadilan bagi korban dan lingkungan yang rusak.
Artikel Terkait
Puan Maharani Ingatkan Pemerintah Antisipasi Dampak Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi
Prabowo Bahas Pertahanan dan Kemitraan dengan AS dalam Pertemuan Tertutup
Ekspor Teknologi Hijau China Melonjak di Tengah Gejolak Harga Minyak Global
Polisi Korea Selatan Ajukan Surat Penangkapan untuk Bang Si-Hyuk, Pendiri Hybe, Terkait Dugaan Penipuan Investor