Langit masih kelabu di atas Tapanuli Tengah, Senin lalu, ketika Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung kerusakan pasca banjir bandang. Di tengah lumpur dan sisa-sisa reruntuhan, pesannya terdengar jelas: perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana, tapi kenyataan yang harus dihadapi. "Perubahan iklim harus kita hadapi dengan baik," tegasnya, menekankan peran vital pemerintah dalam menjaga lingkungan dengan penuh tanggung jawab.
Bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat itu, menurutnya, adalah pengingat yang keras. Ia pun meminta seluruh jajarannya, dari pusat hingga daerah, untuk serius mengantisipasi kondisi lingkungan ke depan. "Mungkin yang di daerah-daerah juga semuanya harus siap," ucap Prabowo, menyerukan kewaspadaan kolektif.
Namun begitu, perhatiannya terhadap isu ini bukan hal baru. Beberapa hari sebelumnya, dalam Puncak Peringatan Hari Guru, Presiden sudah menyentil soal tantangan global ini. Ia bicara tentang pentingnya kesiapsiagaan bangsa menghadapi kerusakan lingkungan yang bisa memicu bencana.
Lalu, apa langkah konkretnya? Prabowo melihat pendidikan sebagai ujung tombak. Ia mendorong agar materi tentang lingkungan hidup ditambah dalam silabus sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.
"Perlu kita tambah dalam mata pelajaran, juga kesadaran akan sangat pentingnya kita menjaga lingkungan alam kita, menjaga hutan-hutan kita,"
Artikel Terkait
Yayasan Gates Siapkan Rp150 Triliun, Tapi PHK 500 Karyawan Mengintai
Cipratan Air Banjir Picu Amuk, Warga Koja Berakhir dengan Luka di Wajah
Ekonomi Jerman Akhirnya Tumbuh Tipis, Tapi Beban Ekspor Masih Membelit
Ekspor Mobil Ramah Lingkungan Korsel Tembus Rp1.200 Triliun di Tengah Pergeseran Pasar