Di tengah sorotan dunia, Perdana Menteri China Li Qiang justru mengajak negara-negara berkembang untuk berkolaborasi dalam urusan logam tanah jarang. Gagasan ini ia sampaikan dalam forum puncak G20 di Afrika Selatan yang baru saja berakhir.
Isu mineral penting memang jadi salah satu bahasan utama dalam KTT kali ini. Tak tanggung-tanggung, beberapa sesi khusus pun didedikasikan hanya untuk membahas persoalan yang satu ini.
Sebelumnya, sejumlah anggota G20 sempat menyuarakan kekecewaan mereka. Mereka keberatan dengan kontrol ekspor logam tanah jarang yang diterapkan China negara yang menguasai produksi dan ekspor komoditas strategis tersebut.
Namun begitu, Li dengan tegas membela kebijakan Beijing.
Ia menekankan bahwa perdagangan mineral untuk kepentingan militer harus diawasi secara ketat. Titik.
"Kami akan mempromosikan kerja sama yang saling menguntungkan dan pemanfaatan mineral-mineral kunci secara damai," ujar Li.
Lalu ia menambahkan, "Kami akan menjaga kepentingan negara-negara berkembang, sambil secara bijaksana menangani penggunaan militer dan lainnya."
Usai pertemuan, China langsung bergerak. Dalam jumpa pers penutupan, mereka membeberkan rencana konkret kerja sama logam tanah jarang dengan beberapa negara berkembang.
Beijing meluncurkan inisiatif pertambangan hijau bersama 19 negara. Kamboja, Nigeria, Myanmar, dan Zimbabwe negara-negara dengan sumber daya melimpah ikut serta, didampingi Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Artikel Terkait
Arus Balik Libur Panjang, 78 Persen Penumpang Whoosh Padati Rute Bandung-Jakarta
Penjualan Mobil Nasional Melonjak 55 Persen pada April 2026, Gaikindo Optimistis Industri Otomotif Tumbuh Solid
Menkeu: Aturan DHE SDA Perkuat Likuiditas Bank Himbara, tapi Harga Saham Belum Bergerak
Harga Pangan Senin: Cabai Merah dan Daging Ayam Ras Melonjak Tajam, Cabai Rawit Hijau Justru Anjlok