Tulang Punggung Ekonomi Terhimpit, Kredit UMKM Justru Menyusut

- Jumat, 21 November 2025 | 14:25 WIB
Tulang Punggung Ekonomi Terhimpit, Kredit UMKM Justru Menyusut

Pertumbuhan kredit perbankan ternyata melambat pada Oktober lalu. Data Bank Indonesia (BI) yang baru dirilis menunjukkan angka hanya 7,36 persen, turun dari bulan sebelumnya. Ini jadi level terendah dalam tiga bulan terakhir.

Yang menarik, sikap hati-hati bank-bank terhadap segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi sorotan utama. Padahal, segmen ini sering disebut sebagai tulang punggung ekonomi. Tapi rupanya, data berbicara lain.

Brian Lee Shun Rong, ekonom Maybank Investment Banking Group, mengungkapkan fakta mengejutkan. Kredit UMKM justru menyusut minus 0,1 persen secara tahunan. Padahal di September, masih ada pertumbuhan tipis 0,2 persen. Perlambatan ini cukup signifikan.

"Bank-bank masih berhati-hati dalam memberikan pinjaman kepada segmen UMKM, dan pembiayaan konsumen di tengah risiko kredit," kata Brian dalam risetnya yang dikutip Jumat (21/11/2025).

Menurut catatan BI yang dia rujuk, perbankan masih memandang UMKM sebagai segmen berisiko tinggi. Alasannya klasik: keterbatasan agunan, pencatatan keuangan yang tidak lengkap, plus arus kas yang fluktuatif. Faktor-faktor ini membuat bank berpikir dua kali sebelum menyalurkan dana.

Di sisi lain, penyaluran kredit masih terkonsentrasi pada korporasi yang dinilai lebih aman. Laporan riset memaparkan bahwa kehati-hatian perbankan ini berdampak nyata pada realisasi kredit konsumer dan UMKM. Padahal, likuiditas perbankan sebenarnya terbantu oleh kebijakan BI.

Brian mencatat, perlambatan kredit ini terjadi dalam beberapa kondisi yang kurang mendukung. Permintaan kredit memang sedang lemah, korporasi lebih memilih mengoptimalkan pembiayaan internal, dan tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi.

Ironisnya, penurunan suku bunga kebijakan sejak tahun lalu belum sepenuhnya tersalurkan ke suku bunga kredit. Rata-rata suku bunga kredit baru turun ke level 9 persen pada Oktober. Sementara itu, suku bunga deposito satu bulan sudah turun lebih dalam ke 4,25 persen. Selisihnya masih cukup lebar.

Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya sudah mengingatkan soal ini. Dia menilai perlambatan penyaluran kredit dipengaruhi sikap wait and see pelaku usaha yang masih menahan ekspansi. Korporasi memilih optimalisasi pembiayaan internal, dan suku bunga kredit yang masih relatif tinggi jadi faktor penghambat.

"Pertumbuhan kredit perbankan perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," tegas Perry Warjiyo.

Yang cukup mencengangkan, fasilitas pinjaman yang belum dicairkan atau undisbursed loan pada Oktober 2025 masih sangat besar. Angkanya mencapai Rp2.450,7 triliun atau 22,97 persen dari plafon kredit yang tersedia. Dana yang menganggur ini cukup signifikan.

Jadi, meski ada ruang untuk menyalurkan lebih banyak kredit, realisasinya masih terhambat oleh berbagai faktor. Mulai dari kehati-hatian bank hingga kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya kondusif.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar