"Kondisi ekonomi global ternyata lebih tangguh dari yang diperkirakan," begitu penjelasan resmi dari kementerian.
Di sisi lain, Otoritas Moneter Singapura bulan lalu memilih bertahan dengan kebijakan moneternya yang sekarang. Keputusan ini diambil melihat ekonomi negara-kota itu tetap menunjukkan ketahanan meski ada berbagai tantangan eksternal. Salah satu yang paling mencolok tentu saja kebijakan tarif impor dari Amerika Serikat.
Memang, ekspor Singapura ke AS dikenai tarif 10 persen lebih rendah daripada yang harus dibayar negara-negara tetangganya di Asia Tenggara. Tapi jangan salah, ancaman tetap ada. Pungutan sektoral, termasuk tarif fantastis 100 persen untuk obat-obatan bermerek, masih menjadi bayang-bayang yang mengintai.
Artikel Terkait
Megawati Sambut HUT PDIP ke-53 dengan Penegasan Partai Penyeimbang
Bantuan Subsidi Upah Rp600 Ribu untuk Guru Madrasah Non-ASN Telah Cair
Kilang Balikpapan Berbenah: Rp 123 Triliun untuk Fondasi Energi Nasional
Klok Buka Suara Soal Sakit Hati Jelang Duel Panas Persib vs Persija