Ruangan di Kompleks Kejagung itu ramai oleh wartawan ketika Kapuspenkum, Anang Supriatna, muncul untuk memberikan penjelasan. Operasi penggeledahan besar-besaran baru saja usai digelar tim penyidik. Sasaran mereka? Enam belas lokasi berbeda, tersebar di Medan, Sumatera Utara, dan Pekanbaru, Riau. Semua ini terkait penyelidikan kasus korupsi ekspor limbah kelapa sawit atau POME yang terjadi pada 2022.
“Penggeledahan berlangsung sejak 12 hingga 14 Februari lalu,” ujar Anang, Kamis (19/2/2025).
“Kurang lebih ada 11 lokasi di Medan dan 5 lokasi di Pekanbaru. Kami masuk ke rumah kediaman, kantor, juga tempat-tempat yang terafiliasi dengan para tersangka,” tambahnya, merinci lingkup operasi yang cukup luas itu.
Hasilnya, penyidik tak pulang dengan tangan kosong. Mereka menyita sejumlah barang bukti krusial. Mulai dari dokumen fisik, ponsel, komputer, hingga yang paling mencolok: enam unit mobil. Anang menyebutkan satu per satu: “Ada Toyota Alphard, Toyota Corolla Hybrid, satu Avanza beserta BPKB-nya, dan tiga unit roda empat lainnya.”
Dokumen yang diamankan pun beragam. Mulai dari sertifikat tanah, bukti transaksi keuangan, hingga arsip elektronik. Aset-aset ini, menurut Anang, seluruhnya atas nama perusahaan milik tersangka dan pihak-pihak yang berafiliasi. “Dari satu kantor saja, di dalamnya ada beberapa PT. Kami juga menemukan dokumen terkait kegiatan CPO di salah satu rumah yang digeledah,” ungkapnya.
Kini, barang bukti itu sedang dianalisis lebih lanjut. Tujuannya jelas: mengungkap lebih dalam tindak pidana yang diduga dilakukan para tersangka.
Modus Rumit di Balik Limbah Sawit
Kasus ini sendiri sudah menyeret sebelas orang sebagai tersangka. Tiga di antaranya adalah penyelenggara negara, sisanya dari kalangan swasta. Menurut penjelasan Direktur Penyidikan Jampidsus, Syarief Sulaeman Nahdi, modusnya terbilang cerdik namun menyesatkan.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang
Sidang Perdana Tiga Prajurit Kopassus Terkait Pembunuhan Kepala Bank
Arus Tol Menuju Jakarta Padat Usai Libur Panjang Paskah
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Plastik, Pedagang Pasar Keluhkan Kenaikan 50%