Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa lambatnya komunikasi dari pihak kampus dapat membuka celah bagi pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan spekulasi negatif yang pada akhirnya tidak hanya mencoreng nama baik Jokowi, tetapi juga UGM.
Untuk itu, Hensa kembali menekankan pentingnya kehadiran bersama antara UGM dan Jokowi dalam menyikapi isu ini, tentu dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan Presiden terlebih dahulu.
“Ini sudah saatnya UGM dan Jokowi tampil bareng untuk menyelesaikan polemik ijazah tersebut, namun menunggu pak Jokowi kondisinya sehat tentunya,” kata Hensa.
Tak hanya UGM, Hensa juga mendorong para alumni kampus tersebut untuk turut bersuara. Ia menilai, diamnya para alumni justru dapat memicu kecurigaan publik terhadap kampus tempat Jokowi menimba ilmu.
“Jika alumni-alumni UGM ini hanya diam, maka akan menambah kecurigaan publik bahkan menimbulkan spekulasi adanya kerja sama antara UGM dengan percetakan-percetakan di Pasar Pramuka,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hensa mengingatkan bahwa masyarakat kini menantikan kejelasan dari UGM sebagai institusi yang menerbitkan ijazah Presiden Jokowi.
“Intinya, harusnya UGM yang bersuara dan kalau perlu tampil bersama dengan Jokowi, bisa jadi UGM bubar secara institusi jika tidak merespons ini karena nama besarnya tercoreng akibat menerbitkan ijazah palsu,” pungkas Hensa.
Sumber: Tribunnews
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir